Di Bawah Geliat Matahari

Ketika aku kecil, ayahku kerap mengunjungi Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk membeli berbagai kebutuhan. Jika tak ada kegiatan, aku pun turut beliau. Tak hanya penjual baju atau celana yang ada di sana, pedagang barang bekas atau loak pun berjejeran di pinggir jalan. Aku selalu menikmati ritual menyusuri pedagang kaki lima di sana. Sepulang dari Tanah Abang, jumlah mainan atau komik Pertuk-ku selalu bertambah; baju dan celanaku pun bertambah, tapi itu setahun sekali.

Ke tukang loak itulah kami menuju. Di sana kami bisa membeli barang bagus dengan harga “miring”. Tentu saja, barang bekas! Kami bisa membeli suku cadang untuk pompa air, misalnya. Di antara berbagai merk yang ada, “Dragon” merupakan suku cadang pompa yang terkenal kuat. Dan memang, dalam dua tahun kami hanya satu kali ganti. Satu kali ganti dalam dua tahun adalah ukuran kekuatan suku cadang itu. Kalau ada yang lebih dari dua tahun, tanpa debat kusir kami pasti akan membelinya. Tapi harus miring harganya.

Suatu saat, pompa kami rusak. Dan aku sangat ingin perahu-perahuan yang juga dimiliki salah seorang temanku, Andi. Mainan itu keren sekali.

Setelah berjalan sekian jam, kami belum juga menemukan si “Dragon”. Sampai sekira sepuluh menit lalu, kami melihatnya. Tapi sayang, barang itu tak berhasil kami bawa pulang.

Tubuh kering ayahku ditelan keringat. Duduk di pinggir trotoar, ia menatapku yang tengah asyik melihat perahu-perahuan di dalam baskom. Tak jauh darinya. Sekira dua langkah. Perahu-perahuan itu terbuat dari seng. Dengan diisi minyak goreng, perahu itu akan jalan di atas air. Jika pedagangnya menaruhnya di baskom berisi air, maka Andi menaruhnya di bak penuh air. Betul-betul keren.

Kucuri pandang ke ayahku. Senyumnya hadir, kemudian absen kembali. Matanya mengilatkan cahaya. Dahinya agak berkerut. Dadanya mengembang. Sekian jenak, kembali mengempis. Entah bagaimana, tapi aku menangkap pesan yang ia sampaikan kepadaku.

Aku pun enyah dari depan pedagang perahu-perahuan itu. Ia menggenggam tanganku. Erat sekali. Kami siap pulang tanpa membawa satu barang pun. Matahari menggeliat. Tepat di atas kami. Selama hampir dua jam, kami berjalan pulang. Jalan kaki.

Dompet dan seluruh uang ayahku raib dari kantong celananya.

Tapi, sepanjang jalan itu senyum ayahku terus hadir. Tak lagi absen. Hanya itu yang menguatkanku berjalan kaki selama hampir dua jam. Di bawah matahari menggeliat.

Iklan

4 pemikiran pada “Di Bawah Geliat Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s