Penyunting dan Kesalahan


Lagi, sebuah buku baru. Minggu ini saya mendapat kabar bahwa buku suntingan saya telah selesai cetak. Saya bersicepat pergi ke depan, ke toko, untuk sekadar mengeceknya.

Kebetulan kantor saya membuka toko buku. Jadi ketika ada buku baru yang selesai dicetak saya bisa langsung mengeceknya di depan.  Saya mendapati buku suntingan itu tergeletak di rak buku. Masih terbungkus plastik. Tak sabar, segera saja saya menanggalkan bungkusnya. Dan membacanya. Lho, bukankah buku itu saya sunting, mengapa pula mesti saya baca kembali. Agak aneh? Biar. Saya membacanya kembali  untuk mencoba membuktikan, apakah saya bisa berjarak dengan karya saya sendiri. Artinya, saya mencoba melihat buku suntingan saya itu tak ubahnya buku baru lainnya. Keberjarakan itu bermanfaat agar saya bisa melemparkan kritik dan menemukan kesalahan di dalamnya, baik argumentasi, diksi, atau jalinan kalimat.

Ketika mahasiswa, saya selalu berburu buku baru. Hampir setiap minggu saya mengunjungi toko buku di sekitar kampus. Selain penambah pengetahuan, buku baru juga berarti sumber pundi uang saya. Dengan buku baru, saya bisa menulis resensinya dan dikirim ke media massa. Dan memang tak bisa dimungkiri, kali pertama nama saya terpampang mula-mula sebagai peresensi buku, baru kemudian jenis tulisan lain seperti esai dan reportase.

Saya selalu menikmati setiap halaman buku baru. Juga aroma kertasnya. Kadang, saya menghirupnya perlahan. Ini demi mendapatkan semacam kenikmatan lain dari sebuah buku.  Konon, membaca buku adalah sebuah kesenian. Dan, itu memang benar adanya. Tapi, begitu saya membaca buku baru dan mendapati begitu banyak kesalahan dan kalimat yang ganjil, betapa dongkol hati ini. Padahal jika berbagai kesalahan teknis itu diperbaiki, buku itu sarat pengetahuan baru yang berharga.

Tapi kini, bertahun kemudian, ketika saya bekerja di dunia perbukuan saya mengalami sendiri apa yang saya dongkoli. Ternyata tidak mudah menghadirkan teks yang benar-benar bersih. Bersih di sini berarti gagasan bernas didukung penggunaan diksi yang tepat dan jalinan kalimat yang terpadu. Untuk menghadirkan buku semacam itu membutuhkan prosesnya yang sangat panjang. Bahkan, di beberapa penerbit besar, sebuah naskah mesti melalui beberapa tangan dan mata. Kita ambil contoh dari bagaimana penerbit, umumnya, mengolah naskah lokal.

Ketika sebuah naskah dinyatakan layak, penerbit mencoba menghubungi penulis. Setelah terjadi kesepakatan antara dua belah pihak, penerbit dan penulis, barulah naskah tersebut diolah. Pertama kali diolah oleh editor. Setelah membaca secara keseluruhan naskah tersebut, barulah seorang editor mulai meraba dan mengotak-atik naskah tersebut.

Mencari kesalahan

Jika coba diringkas, pekerjaan utama seorang editor hanya satu: mencari kesalahan. Tentu saja, ini bukan dalam artian agama; bahwa seorang editor seorang yang hasud. Bukan mencari kesalahan yang itu. Tapi mencari kesalahan dalam artian menguliti setiap argumen yang terdapat dalam naskah tersebut.

Tentu, hal ini sangat terkait dengan kecenderungan editor. Jika, misalnya, seorang editor membenci filsafat lalu disuguhi naskah filsafat, maka akan lebih baik ia menyatakan tidak sanggup kepada pemimpin redaksi. Kecuali ia bisa meluruhkan kecenderungannya. Demi profesionalitas. Jika ternyata ia dipaksa mengolah naskah yang ia benci dan ia masih memelihara kecenderungannya, tentu akan sangat berbahaya. Bahayanya berantai. Karena yang dirugikan bukan hanya naskah dan penulisnya, tapi yang terutama adalah pembaca. Dan penerbit, tentunya. Bisa-bisa sepanjang pengolahan naskah, ia akan terus tak bersetuju dengan isi naskah tersebut. Atau malah misuh-misuh. Jika sudah begini, tak perlu diteruskan lagi. Lebih baik serahkan ke ahlinya.

Kembali ke mencari kesalahan. Bisa jadi dalam naskah yang memang layak itu ditemukan berbagai kesalahan seperti tanggal atau peristiwa. Maka, editor mesti memverifikasinya. Misalnya, Indonesia merdeka pada 15 Agustus 1945. Jika ada kejadian seperti ini, jangan terburu-buru membetulkannya menjadi 17 Agustus 1945. Karena bisa jadi seorang penulis memiliki referensi lain. Dan, selama argumentasinya bisa diterima dan struktur naskah itu memang menguatkan tanggal tersebut, maka itu sah-sah saja. Toh, sejarah adalah soal perspektif. Maka, verifikasi yang mula-mula dilakukan editor adalah menghubungi penulis. Jangan gegabah. Selain dalam jurnalisme, verifikasi juga sangat vital dalam dunia penyuntingan. Jurnalisme dan dunia penyuntingan adalah saudara kembar. Verifikasi adalah “agama” jurnalisme dan penyuntingan. (saya akan menulis hal ini di lain kesempatan).

Jika ternyata penulis memiliki referensi lain, mintalah untuk mengirimkannya. Dengan begitu penyunting bisa mempelajari lebih lanjut referensi itu. Menyulitkan? Ah, di mana pula ada pekerjaan yang sama sekali mudah?  Sulit bukan berarti tak bisa ditelateni. Ya, telaten. Itu kata kuncinya. Tapi jika ternyata setelah menghubungi penulis dan dia bilang salah ketik, monggo ganti.

Kedua mencoba menghubungi pakar. Jika memiliki kesempatan menghubungi seorang pakar, gunakan kesempatan itu. Jangan membuang tempo. Bisa jadi, keterangan yang didapat darinya sangat bermanfaat untuk memperkaya naskah yang sedang digarap. Jika memang enggan, cara ketiga bisa digunakan. Yaitu, mau tak mau, minta “wangsit” ke mbah google. Mungkin di antara sekian langkah, cara ketiga ini tergolong paling mudah. Murah meriah pula. Tinggal menyalakan jaringan, ketik kata kunci dan mengelus “enter”, muncullah beragam alternatif. Tapi, meminta wangsit ini pun kadang menimbulkan persoalan tersendiri. Yang paling utama adalah akurasi. Untuk itu, ada baiknya seorang penyunting juga memiliki pengetahuan bagaimana memaksimalkan pencarian informasi menggunakan google. Untuk itu, di zaman sekarang persentuhan seorang penyunting dan dunia internet adalah hal yang mutlak. Tak bisa ditawar, kecuali penyunting memiliki perpustakaan yang berisi ribuan judul buku dan akses telepon tak terbatas ke berbagai pihak seperti para pakar.

Nah, jika salah satu dari ketiga langkah itu sudah ditempuh dan ternyata penyunting mendapatkan jawaban memuaskan silakan lanjutkan penyuntingan.

Namun, bagaimana bila mendapatkan kesalahan logika? Misalnya naskah tentang musibah, tapi di dalamnya penulis merangkai kesimpulannya secara tak ilmiah. Adalah fakta bahwa kini menjamur penjualan keping film “biru” di berbagai tempat, prostitusi dan korupsi berseliweran di depan mata. Lalu, tibalah musibah. Dan, kedua hal itu merupakan hubungan sebab-akibat (kausalitas). Tentu, kesimpulan seperti ini bisa sangat menyesatkan. Karena, kita tak bisa mengatakan keduanya adalah hubungan kausalitas. Korupsi yang menjamur adalah satu hal; musibah hal lain. Kecuali, misalnya, Umar makan, Umar kenyang. Itu baru hubungan kausalitas (saya tidak sedang membincang konsep kausalitas yang digagas David Hume [filsuf Inggris abad 17] atau al-Ghazali [filsuf muslim abad 12], tapi kausalitas sebagaimana yang jamak diketahui banyak orang). Setelah makan, pasti kenyang, tentu saja kenyang di sini terkait dengan pribadi masing-masing. Atau misalnya, membandingkan ekonomi antara Indonesia dengan Amerika. Sekilas, memang tak tampak persoalan. Tapi, coba perhatikan detail. Indonesia adalah negara dunia ketiga, sedangkan Amerika negara berkembang. Istilahnya, tidak “apple to apple”. Kalau mau membandingkan apel, ya mesti dengan apel bukan dengan durian.

Jika dijelaskan satu per satu kesalahan logika ini, bisa berlembar-lembar. Untuk bisa menemukan kesalahan logika ini baiknya seorang penyunting membekali diri dengan segala kemampuan dan senantiasa meluaskan wawasan. Caranya, dengan terus membaca dan mengolah kepekaan bahasa. Ini semua demi kepuasan pembaca. Jika dalam perkara perdagangan pembeli adalah raja, dalam dunia perbukuan pembaca adalah raja.

Maka, ketika saya membaca lagi buku suntingan saya, saya menganggap diri sebagai pembaca. Bukan penyunting. Dengan begitu, saya bisa merasakan: apakah saya sudah dianggap raja atau belum? Jika belum, saya tak sungkan mengeluarkan unek-unek, atau malah misuh-misuh, ke penyuntingnya; meski pahit ketika membaca nama saya tertera sebagai penyunting.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s