Alhamdulillah, Masih Ada Jengglot Sepertimu

Aku ingin menampar dan menubrukmu. Dan kita bergulingan karenanya. Itulah yang akan kulakukan bila kita berjumpa kembali. Entah, aku tak punya ide lain selain menampar dan menubruk dirimu hingga kita bergulingan. 

Tahukah kau, selama empat tahun ini aku serupa layangan tanpa angin, tak tentu arah ke mana. Hitungan tahun memang, tapi kok serasa berpuluh tahun, ya. Tolong, jangan sela pembicaraanku dulu, apalagi mengungkit masalah kenapa sampai sekarang aku belum juga lulus. Kebiasaan kau!

”Jangan mengaku mahasiswa,” ungkapmu di Perpustakaan Utama, sebelum melanjutkan, ”jika jarang membaca dan tak mau diskusi.” Aku belum lupa akan peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Aku tengah berdebat dengan seorang teman yang enggan membaca buku, padahal untuk tugas kuliah. Aku berterima kasih kepadamu karena membantuku meyakinkan temanku itu. Walau temanku itu tak juga insaf, tapi aku merasa beruntung bertemu denganmu (boleh lah hidungmu yang pas-pasan itu mengembang). Itulah kali pertama kita bertemu. Dan dari situ pula jalinan persahabatan kita dimulai.

Aku ingin menggandeng dan mengajakmu menyusuri kembali kampus ini (Setelah kita selesai bergulingan, tentunya). Ingatkah kau tempat bersejarah kita: aku, kau, dan sejumlah teman. Dulu, kita sering berdiskusi dan ngobrol ringan perihal buku yang sedang kita baca, mengomentari dosen, atau merancang sebuah tulisan. Di mana saja, yang penting adem, udaranya segar, nyaman: taman depan gedung Pusat Bahasa dan Budaya; depan Tarbiyah; depan Ushuludin; samping Perpustakaan Utama; DPR (itu lho, Di bawah Pohon Rindang yang terletak di depan gerbang utama). Dan itu bukan hanya kita. Tempat-tempat itu dipenuhi kelompok mahasiswa lain yang sayup-sayup terdengar tengah pula berdiskusi.

Tapi, kau jangan berharap bisa melihat semua tempat itu sekarang, kecuali taman di samping Perpustakaan Utama (PU). Kampus kita berubah, Kawan. Megah, memang. Tapi gersang. Sudahkah kau mendengar berita penggantian logo kampus kita? Itu dibilang kurang kerjaan bisa, dibilang cari sensasi bisa, dibilang celah untuk mencairkan dana juga boleh.

Nah, mungkin kau bertanya: di mana para mahasiswa sekarang kumpul? ”Di kantin fakultas,” jawabku tanpa ragu. Rata-rata fakultas memiliki kantin sendiri. Di sanalah para mahasiswa kongkow. Kongkow dalam artian yang sebenarnya, nongkrong dan ngerumpi. Mungkin kau akan kaget mendengar obrolan mereka: mahasiswi membicarakan mode, mahasiswa membicarakan lawan jenisnya, juga tak ketinggalan pasangan yang berkasih-kasihan, atau mahasiswa yang pamer laptop. Aku bilang pamer kepada mahasiswa yang membawa komputer jinjing itu di kantin. Tersebab, tak ada hotspot (wi-fi) di sana, kalau pun ada jaringannya lemah sekali. Apa coba, selain pamer? Membanggakan milik orang tua, huh!

Mereka belum sadar, ijazah mereka tidak laku di pasaran, hatta mereka obral sekalipun. Aku mendapat cerita, kakak kelasku yang juga angkatan pertama fakultasku hendak mendaftar menjadi pegawai negeri sipil di Departemen Agama. Belum apa-apa, ia sudah ditolak. Pasalnya, fakultasku tidak memberikan keahlian khusus bagi mahasiswanya. Semua tempat itu telah diisi oleh mereka yang dari jurusan masing-masing, ada yang dari sastra Arab, tafsir-hadis, ahwal al-syakhsiyah, dan lain-lain. Padahal, ia adalah mahasiswa terbaik se-universitas. Pasti kau tahu namanya, Mustaghfirin atau kami memanggilnya Gus Mus. Kini ia di Al-Azhar, Mesir.

Belum lagi cerita yang lain. ”Ternyata, label Islam tidak selamanya menguntungkan, ya?” kontan aku kaget mendengar seloroh seorang teman, suatu hari. ”Aku tak diberi kesempatan untuk mendaftar sebagai pegawai sipil negeri di Departemen Luar Negeri. Dan itu karena ada huruf I di belakang gelar yang kusandang,” tambahnya seraya bersungut.

Lagi pula, perusahaan swasta hanya mau menerima mereka yang telah teruji kualitas dan kemampuannya. Lalu, kemampuan apa yang mereka miliki jika sehari-hari hanya nongkrong dan ngerumpi?

Masih terngiang omelanmu, ”Aku khawatir dengan pembangunan ini. Seandainya pihak kampus tidak memerhatikan fakultas agama dengan baik, hilanglah kewibawaan fakultas tersebut,” matamu melirik ke gedung fakultas yang sedang dibangun. ”Dan bukan tidak mungkin ke depan fakultas agama akan menjadi semacam pelengkap belaka,” tambahmu sebelum melihat kampus untuk kali terakhir. Dan itu terbukti sekarang.

Kulihat kau tengah menunduk dan bahumu lemas tak bertenaga. Bibirmu melantunkan sajak sarat duka:

Dulu ada sisa sebuah taman, di mana kita berdekapan.

Beruntung itu hanya imajinasiku. Kalaupun ya, jangan melankolis begitu, dong!
Oh ya, ingatkah kau perdebatan kita tentang tema seminar yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ushuludin. Dengan lantang aku menyatakan tema seminar itu menarik, seputar politik Islam; kau bilang basi. Maklum, aku kan baru masuk semester dua kala itu, sekitar April 2003 lah. Sedangkan kau mahasiswa injury time. Kadang, aneh juga kau. Acap menerapkan standarmu sendiri kepada orang lain. Tapi, tak mengapa, kau kawanku yang juga karibku berhutang di warung Sardi (Sudahkah kau membayar hutang-hutangmu?).

Jadi, lupakan perdebatan itu. Terlalu sering kita berdebat usai seminar atau ceramah umum. Tak jarang juga kita bersetuju. Di seminar atau ceramah umum, kita selalu mendapat pencerahan, selain makanan gratis, tentunya. Sesak sekali kampus dengan kegiatan yang mencerahkan itu. Hampir setiap minggu, lho. Kangen sekali aku dengan semua kegiatan itu. Kuyakin kau pun begitu, ya kan?

Darimu juga aku belajar menindas rasa malu untuk menjaga stand organisasi demi menjaring anggota baru. Mahasiswa baru sangat dimanja ketika itu. Mereka memiliki banyak pilihan organisasi mahasiswa, baik ekstra maupun intra. Kesemuanya menawarkan bantuan untuk meningkatkan kualitas individu. Masing-masing menonjolkan kelebihan.

Organisasi mahasiswa itu menggelar stand-nya di trotoar kampus yang dimulai sejak gerbang utama hingga depan ujung Pusat Budaya Bahasa (PBB) (kalau dikonversi ke masa sekarang, berarti dimulai dari trotoar pintu kecil Pesanggrahan sampai sekitar depan ujung Fakultas Tarbiyah. Itu kugambarkan agar kau tak kaget). Aku tak bisa mengingat dengan pasti berapa jumlah semuanya. Yang pasti, riuh sekali.

Ada yang memamerkan peragaan teater; cuap-cuap bahasa asing; ngomongin filsafat; menawarkan menjadi anggota koperasi; mengajak naik gunung; mengajarkan tips menulis; cuci mata melihat perempuan cantik (itu kau, bukan aku); dan lain sebagainya. Dan itu berlaku selama beberapa minggu selepas Propesa. Tak salah bila ada gunjingan di dunia mahasiswa secara umum, Ciputat gudang organisasi mahasiswa. Aku mendengarnya ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk sebuah pelatihan organisasi tingkat nasional.

Membicarakan soal ini, aku ingin kau menahan emosimu: kegiatan seperti itu dinilai sebagai kegiatan ilegal sekarang. Pasalnya, rektorat melarang kegiatan seperti itu dalam kampus. ”Harus ada batas antara organisasi intra dan ekstra,” ungkap rektor baru kita di sebuah acara mahasiswa. Dia lupa, ia sendiri berkembang justru di organisasi ekstra yang melahirkan tokoh sekaliber Nurcholish Madjid itu, yang juga organisasiku.

Mungkin kau tak percaya; atau malah sebaliknya, sangat percaya. Tapi begitulah adanya. Aku sering membayangkan jika kau masih bersamaku saat ini. Begitu mendengar kebijakan yang tak bijak seperti itu, kau langsung mengumpulkan organisasi mahasiswa dan mengonsolidasikan gerakan untuk demonstrasi di depan kampus. Selain mahir mengartikulasikan teori dan gagasan yang kau cecap dari buku, kau juga cekatan dalam hal berkoar-koar mengomentari kebijakan yang tak berpihak kepada kepentingan mahasiswa. Itulah mengapa aku bangga menjadi kawanmu. Walaupun kau dekil dan jarang mandi.

”Aku beraksi karena memang harus beraksi. Turun ke jalan bukan pilihan, tapi keharusan. Aku tidak mau menjadi kutu buku belaka, yang kerjanya cuma membaca buku. Aku juga harus menjadi mahasiswa yang mampu merealisasikan apa yang kubaca. Aku mesti yakin, ikhtiarku akan berhasil,” ungkapmu berapi-api di depan kami.

Menenteng megaphone, kau berlalu dari hadapan kami (aku dan sejumlah teman). Kau marah kepada kami yang tak mau bergabung. Kalaupun kami bergabung, bukan karena kasihan kepadamu yang memang pantas dikasihani. Tapi karena pendapatmu yang benar belaka. Tidak lebih. Bukankah kau juga yang mengajari kami untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah tetap salah. Kami, khususnya aku, tak ingin kau mengkhianati ajaranmu sendiri.

Dan, sebenarnya kami enggan karena terang-terangan akan berhadapan langsung dengan senior kami, sekaligus senior kau juga. Tapi, kau mengabaikan senioritas dan mengutamakan kebenaran. Itu yang aku saluti darimu.

Kalau kau berbuat demikian sekarang, para mahasiswa baru akan memandangmu sebagai Jengglot, manusia aneh. Kau dapat melihat wajah mereka yang kemerah-merahan, yang berarti: ”Lha wong memang tugas kita belajar, bukan mengikuti organisasi tetek-bengek seperti itu. Membuang waktu saja. Dasar Jengglot.”

Beruntung kaululus. Tapi kelulusanmu menimbulkan malapetaka bagi kami: sukar sekali mencari kawan sepertimu di kampus ini. Mentok di kampus, tak menghilangkan akalku untuk melebarkan sayap. Akhirnya aku mendapati kawan sepertimu di luar kampus. Banyak sekali, malah. Tapi, sejujurnya kami merasa kehilangan dirimu. Kau meninggalkan tradisi yang tak akan kami lepaskan selamanya.

Kami terbiasa membaca buku karena arahanmu; kami sering berdiskusi atas saranmu; tak sekali-dua pula kami belajar menulis di media karena anjuranmu; kami mengenal komunitas diskusi lain juga berkat ”tanganmu”. Terima kasih, Kawan. Tapi, kau juga masih meninggalkan hutang yang tak akan kami lupakan selamanya. Bayar, kawan.

Empat tahun ini praktis aku tak berhasrat untuk berdiskusi di kampus. Jangan salah. Selepas kaupergi aku sering mengajak mahasiswa baru untuk bergabung ke kelompok kajian kita. Berbusa mulutku dibuatnya. Tapi yang nyangkut tak lebih dari hitungan jari. Tapi, tak mengapa. Aku selalu mengadakan diskusi di luar kampus dengan kawan-kawan sepertimu.

Alhamdulillah, kelompok kajian kita masih ada. Kendati anggotanya cuma segelintir. Tak mengapa. Aku selalu membesarkan hatiku sendiri sembari membenarkan tesis Arnold Toynbee tentang creative minority, yaitu sekelompok kecil orang yang mampu menciptakan arus dalam masyarakat dan melahirkan peradaban. Dengan menepuk dada, aku mengaggap diriku termasuk ke dalam kelompok itu. Setidaknya itu obat termanjur bagiku untuk bertahan dalam kondisi kampus yang tak terlalu baik ini.

Entah mengapa kau tak meninggalkan jejak kepada kami untuk sekadar bertukar kabar. Barangsiapa kebetulan membaca surat ini sampaikan pesanku ini kepada kawanku itu. Ia tak bernama. Hanya saja ia dapat dikenal dengan ciri-ciri:1) selalu menghasut orang untuk membaca; 2) selalu mengajak orang untuk berdiskusi; 3) memberikan arahan untuk menulis di media massa. Maaf, hanya itu yang bisa aku paparkan mengenai ciri-ciri umumnya. Mungkin sekarang ia telah rajin mandi dan tidak lagi dekil. Kalau belum berubah, maka itulah dua ciri selanjutnya.

Katakan pula kepadanya untuk kembali ke kampus ini. Ya, sekadar nostalgia. Kami sangat bersyukur bila ia mau kembali bergabung untuk meramaikan kampus ini.

Oh ya, sampaikan pula kepada kawanku itu bahwa aku menjadi senior di kelompok kajian kami. Juga jangan lupa, wahai pembaca surat, katakan kepadanya bahwa aku menemukan seorang mahasiswa yang persis dengannya, manusia aneh, Jengglot yang lain. Kusebut saja dia Jengglot.

Aku bertemu dengannya di sebuah pelatihan dasar organisasi di Puncak. Kau tahu, ujarannya itu yang mengingatkanku kepadamu,”Aku memerhatikan waktu Abang memberikan materi. Abang kok hebat ya waktu itu.” Jangkrik. Karena aku menyadari betul konsekuensi logis kalimat itu: sekarang aku tak hebat lagi!

Ciputat, 06 Desember 2008

(Naskah ini memenangi lomba Esay yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta 2008; juara 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s