Melawan dengan Tubuh Menawan

 Perlawanan memang kadang tak butuh jawaban, yang terutama adalah mengeluarkan perlawanan itu. Jika jawaban itu tidak datang pada saat perlawanan dilancarkan, niscaya ia datang kepada generasi mendatang. 

”Jika tubuh tak lagi berkorelasi dengan pikiran, apa bedanya manusia dengan anjing sirkus; berlagak dan pamer, lalu rubuh?” gugat David Herbert Lawrence atau karib dengan nama DH Lawrence. Ia menulis gugatannya di pengantar novel paling masyhurnya ini, Lady Chatterley’s Lover

Ketika terbit kali pertama, novel ini mendapat banyak sorotan media. ”Monster dan menyeramkan,” tulis salah sebuah media Inggris atas terbitnya novel ini. Hal itu disebabkan penuturan seks dalam novel ini.

Tapi, usaha yang dilakukan penulis patut diacungi jempol. Dengan mengerahkan keterampilannya berbahasa, ia mampu mengatasi keterbatasan bahasa. Diksi yang ia gunakan dalam novel ini saat melukiskan persenggamaan tak akan menjatuhkan imaji kelas ”picisan”, tapi justru menjadi indah lembut. Indah. “Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah…”

Tiga kali mengalami perombakan sana-sini, novel ini pernah dinyatakan sebagai karya pornografis. Di Eropa dan Amerika versi bajakan novel ini banyak beredar, karena tak dilindungi undang-undang hak cipta internasional. Namun, pada akhir 1950-an pengadilan Amerika menyatakan novel ini bukan karya pornografis.

Secara umum, novel ini menawarkan menawarkan makna lain dari aktivitas seksual. Dalam hal ini, Lawrence menembus strata seksual yang tak bisa disentuh para pendahulunya, kecuali James Joyce dalam Ullyses (1922). Sastrawan Inggris itu menempatkan seksualitas sebagai kekuatan kehidupan yang meramaikan kosmos. ”Seks adalah keseimbangan antara pria dan wanita dalam jagat raya,” ungkapnya.

Teliti saja sikap Constance Chatterley (Connie). Mulanya, ia gadis periang. Namun, sejak menikah dengan Clifford, seorang tuan tanah dan pemilik tambang di Wragby, ia menjadi pendiam dan banyak merenung. Tak ada gairah hidup, padahal ia masih berusia sekitar 20-an tahun, dan menawan.

Hidupnya disesaki kesepian, kegelisahan, keterasingan. Hal itu membuat anggota tubuhnya bergerak tanpa ia komando, mengentak tulang punggungnya saat tak sedang ingin duduk tegak, tetapi lebih suka beristirahat dengan nyaman. Kegelisahan merasuki tubuhnya, di dalam rahimnya, di suatu sudut tubuhnya, sampai membuatnya merasa harus melompat ke air dan berenang, meninggalkan semua itu: kegelisahan yang gila.

Hidupnya menjadi hiasan belaka bagi Clifford. Ia hanya dibutuhkan pada acara-acara resmi. Padahal, adalah wajar bagi Connie merasakan ”sentuhan” suami. Tapi, tuan tanah itu tak bisa memberikan apa yang diharapkan istrinya tersebut. Soalnya, Clifford menderita lumpuh separuh badannya, dari pinggang ke bawah.
Namun di hutan Wragby, ia bertemu penjaga hutan bernama Mellors. Di tangan lelaki yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu ia menemukan cinta sejati, bukan cinta semu sebagaimana yang ia dapat dari Clifford. Di sana pula terjadi harmoni, keselarasan hidup. Kesepian tak lagi menyapa Connie.

Inilah ciri khas Lawrence: tokoh yang ia ciptakan selalu melawan. Hal itu juga yang tampak pada Connie. Sadar tak bisa melawan kehendak suami dengan cara lain, ia menjadikan tubuhnya yang menawan itu sebagai alat untuk melawan.
Tapi, bukan berarti bahwa hubungan yang ia lakukan dengan Mellors tidak didasarkan atas cinta. Ia melakukannya dengan cinta dan tulus. ”Aku bukan hendak memperalatmu,” bisik Connie ke Mellors di atas tempat tidur. Saat itulah, ia merasakan sebagai seorang perempuan sejati, paripurna. Dan, hubungan itu menghasilkan: Connie hamil, lalu menuntut cerai dari Clifford. Tapi Clifford menampik tuntutan Connie.

Tentu, novel ini tak berkisah soal percintaan semata, tapi juga sarat dengan nuansa kritik sosial. Itu pula alasan sebagian kritikus yang menganggap novel ini sebagai karya brilian Lawrence. Setelah Perang Dunia I Inggris adalah negeri yang sedang membangun kembali kebesarannya di masa silam. Kendati modernisasi mulai tumbuh yang dicirikan dengan masuknya industrialisasi dan kapitalisme, tapi masyarakatnya masih terjebak ke dalam sistem kelas dan kasta.

Dalam kondisi masyarakat yang demikian, posisi Mellors tak penting bagi sang tuan, Clifford. Tapi, posisinya berubah menjadi penting kala Connie mengangkatnya menjadi kekasih. Tak lagi ada sekat antara tuan dan hamba di sana. Yang ada hanyalah relasi kemanusiaan. Inilah mengapa novel ini bak kamera, karena keberhasilannya menangkap peristiwa penting di masyarakat Inggris kala itu, seperti halnya pelanggengan relasi kelas dalam masyarakat yang digambarkan Clifford dan Mellors.

”Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak seorang pun dihukum,” tulis Goenawan Mohammad di pengantar novel ini. Perlawanan memang kadang tak butuh jawaban, yang terutama adalah mengeluarkan perlawanan itu. Jika jawaban itu tidak datang pada saat perlawanan dilancarkan, niscaya ia datang kepada generasi mendatang.

Data buku:

Judul: Lady Chatterley’s Lover

Penulis: DH. Lawrence

Penerbit: Alvabet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s