Bukan Pentas Srimulat

Menggali komedi melalui video. 86 seniman dari dalam dan luar negeri ikut andil. Tapi, tak ada Tukul Arwana di sana.

Mengenakan kaca mata hitam, seorang seniman menyibakkan celananya hingga betisnya terbuka. Temannya muncul lalu melumuri betis seniman itu dengan gel wax (gel yang digunakan untuk mencabut bulu). Sang seniman meringis; senyumnya tanggung: antara rela dan tidak. Sebentar kemudian ia melepas kacamatanya. Selesai dilumuri gel muncul kertas bertuliskan “Semangat Avant Garde” yang ditempel ke betisnya. Otot lehernya menegang; sedikit menahan nafas. “Aaawww,” teriak si seniman saat temannya mencabut tulisan itu. Tangannya refleks menyeka air mata yang keluar.

Itu adalah adegan pembuka video karya Yusuf Ismail berjudul Natural Born Contemporary Moron (18, 46 menit; 2009). Video itu merupakan satu dari 95 video yang diputar di Galeri Nasional Indonesia untuk perhelatan Ok. Video Jakarta International Video Festival keempat pada 28 Juli -9 Agustus 2009. Bertemakan Comedy Ruangrupa selaku panitia membuka pendaftaran dan mengundang sejumlah seniman di dalam negeri dan manca negara untuk berpartisipasi. Hasilnya, OK. Video 2009 menampilkan 95 karya seniman dari 31 negara ditambah presentasi khusus dari 3 lembaga, yaitu Goethe Institute, Centre Cultural Francais, dan Cologne Off.

Kendati bertemakan komedi bukan berarti semua video yang diputar membuat pengunjung terpingkal atau, bahkan, sekadar mengulum senyum. Memang video Yusuf Ismail bisa mengundang tawa karena sarat dengan kekonyolan. Bagaimana tidak, hampir semua bulu yang ada di tubuh seniman itu, kecuali “tempat” tertentu, dicabut. Siapa pun tahu belaka mencabut bulu itu sakit. Dengan video itu sang sutradra hendak mengutarakan kegelisahannya sebagai seniman yang menanggung beban berat atas kredo dalam seni rupa seperti semangat avant garde, semangat ingin menjadi pembaharu. Dan, video itu seperti hendak membebaskan seni rupa dari pelbagai kredo yang ditandai dengan tercabutnya bulu yang ada di tubuh sang seniman.

Lain halnya dengan Anggun Priambodo. Lewat Sinema Elektronik (4,17 menit: 2009) Anggun memarodikan sinetron. Tak bisa dipungkiri saat ini sinetron merupakan program televisi yang kerap menghantui keseharian kita. Meski banyak kecaman dari berbagai pihak karena kualitasnya yang tak kunjung baik, toh sinetron tetap ada, malah kian subur.

Dengan “sinetron” berjudul Kasih Tak Sampai Anggun memerankan artis dalam segala kondisi. Baik senang, sedih, marah, atau bahagia digambarkan dengan close-up. Sesuai dengan asas parodi maka video ini melebih-lebihkan semua adegan. Simak saja adegan mandi seorang pemuda. Di tengah ia mandi, muncul seorang gadis. Sontak keduanya kaget. Si gadis langsung menutup mukanya dengan tangan. Tapi hanya sesaat, selanjutnya si gadis membuka tangannya dan menikmati pemandangan di depannya. Nama pemeran pun janggal seperti Thomas Kartolo dan Chyntia Ningsih.

Kedua video di atas sesuai dengan judul dalam pengantar kuratorial yang ditulis Aminuddin TH Siregar: Dengan Semangat Ok. Video: Comedy, Mari Kita Tertawakan Hidup Ini.. Apalagi Seni Rupa!!.

Panitia memilih komedi sebagai tema untuk festival video internasional dua tahunan ini karena berdekatan dengan pemilu. “Sebenarnya setelah Militia (Ok. Video 2007) kami berpikir komedi. Karena saat ini ada pemilu dan kampanye,” ungkap Ade Darmawan, direktur Ruangrupa. Festival ini bisa menjadi ajang mengendurkan syaraf bagi masyarakat setelah dijejali banyak janji oleh para politisi. Juga karena perjalanan kebudayaan bangsa ini yang lekat dengan komedi. “Kita memiliki tradisi komedi yang panjang dan sangat bisa dibahas,” tambahnya.

Selain itu, komedi membuat kita santai menanggapi kritik atau protes yang datang. Kedua video di atas memang sarat dengan kritik atas kondisi seni rupa maupun sosial. Kritik memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan bila kritik atau protes disampaikan melalui bahasa yang keras tanpa ada nuansa komedi. Oleh karena itu, OK. Video: Comedy kali ini melihat komedi sebagai bentuk komunikasi melalui medium video yang membicarakan berbagai permasalahan saat ini secara kritis.

Festival kali ini, tulis Aminuddin TH Siregar dalam pengantar kuratorial, masih menggunakan dua macam undangan. Pertama, pendaftaran terbuka bagi siapa saja yang merasa seni videonya memiliki komedi. Untuk kategori ini, video yang masuk mesti melalui proses seleksi. Kedua, melalui undangan khusus bagi mereka yang sepanjang kiprahnya acap kali memunculkan kualitas humor di karya-karya video mereka.

Untuk poin pertama, dewan juri merasa kesulitan dalam memilah video yang layak lolos.  Pasalnya, banyak video yang datang dari negara lain. Kesulitan itu berasal dari perbedaan konsep tentang komedi dan pendekatan yang digunakan. “Kalau untuk dari luar (negeri-red) kita mencoba melihat dengan perspektif yang beda. Dan kita coba mengerti,” kata Ade Darmawan yang juga salah satu dewan juri.

Yang paling mudah, tentu saja, video yang berasal dari Indonesia karena memang sesuai dengan alam pikir para dewan juri. Artinya, dewan juri tak merasa kesulitan menyerap konteks video yang masuk dari Indonesia. Soalnya, dewan juri berasal dari Indonesia semua. Mereka adalah Agung Kurniawan, Hikmat Budiman, Ade Darmawan, Aminuddin TH Siregar, dan Lisabona Rahman. Namun, Ade Darmawan menyayangkan bahwa rata-rata video yang masuk dari Indonesia belum beranjak dari konsep komedi yang ada dalam budaya populer saat ini. Untuk itu, dewan juri tak meloloskan video macam ini. “Kami tak ingin festival ini seperti yang ada di Youtube atau plesetan di televisi,” tutur seniman lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.

Berbeda dengan tiga festival lalu, Aminuddin dalam diskusi pada sabtu (01/08/09) menyatakan bahwa kali ini panitia yang menentukan tema. Lalu tema itu ditawarkan ke seniman dan seniman menafsirkan tema tersebut melalui karya mereka. Dari sana kemudian dilakukan penyeleksian untuk nominasi internasional. Penilaian utama memang menyangkut hal-hal formal dari video seperti teknik kamera, editing, dan konsep.

Ada tiga video yang berhasil menjadi karya video terbaik. Mereka adalah The Door of the Law (5, 45 menit; 2009) karya Morten Dysgaard (Denmark); How to Make a Table (2, 30 menit; 2008) karya Lemeh42 (Italia); Ivo Burokvic (11, 51 menit; 2008) karya Paul Wiersbinski (Jerman). Meski terbaik, ketiga video ini tak mudah membuat pengunjung terpingkal.

The Door of the Law, misalnya. Video itu menggambarkan dua orang yang memperebutkan benda kesayangan mereka: bendera Amerika. Ketika orang Amerika berada di dalam dan sedang menciumi bendera Amerika, orang Arab mengetuk pintu. Karena terganggu, orang Amerika itu pun membuka pintu. Sialnya, tak ada siapa pun setelah pintu terbuka. Pun ketika orang Arab yang berada di dalam; orang Amerika mengetuk dan berkata dalam bahasa Arab bahwa bendera itu miliknya. Ketika dibuka, tak ada orang di sana. lalu, di mana letak kelucuannya?

Memang, video ini tak membuat pengunjung bisa tersenyum. Bahkan, mungkin setelah dua atau tiga kali menonton. Video itu mengelaborasi isu tentang identitas, subyektifitas, nasionalitas, dan stereotip internasional dengan pendekatan satir. Pendekatan ini lazimnya sarat dengan menyindir, mengolok-olok atau menertawakan kebodohan yang tujuannya adalah membongkar sesuatu yang telah lama mengendap dalam benak orang banyak seperti halnya stereotip. Dengan menempatkan kedua bangsa, Amerika dan Arab, mencintai bendera Amerika sehingga menciuminya seakan seorang tercinta video itu hendak mendobrak stereotip yang sementara ini ada di tataran global.

Terutama stereotip bangsa Arab (dan Muslim secara umum). Sejak peristiwa 9/11 bangsa Arab kerap menjadi kambing hitam dari tindakan terorisme di berbagai belahan dunia. Kondisi ini dipicu oleh Al-Qaedah yang, konon, beranggotakan orang-orang yang berasal dari Timur Tengah. Justru di sinilah letak kelucuan itu.

Bagaimana mungkin seorang Arab yang konon dicitrakan sebagai teroris dan pembenci Amerika bisa begitu intim menciumi bendera Amerika, sebuah sikap yang justru sangat cinta terhadap Amerika. Yang terpenting adalah video itu dibuat oleh orang Denmark, sebuah negara yang pernah membuat “panas” banyak negara Muslim dengan penayangan kartun Nabi Muhammad di Jyllands Posten, surat kabar terbesar di Denmark, pada 2005 lalu. Video itu hendak mengatakan bahwa bagaimana pun stereotip dan pemberian identitas tentang berbagai hal mesti dikaji ulang. Dan itu ditampilkan dengan sangat jenius dalam video tersebut.

95 video dalam Ok. Video kali ini mengajak pengunjung untuk berkaca: sejauh mana sisi humor yang dimiliki. Jika ada video yang lucu, silakan terpingkal. Tapi kalau ada yang tak bisa memancing tawa, memang sejak awal panitia tak hendak mengundang Tukul Arwana, apalagi Srimulat, untuk tampil dan membanyol di Galeri Nasional Indonesia.

Dimuat Majalah Saroha (alm.)

PS: Gambar diambil di sini

Iklan

Satu pemikiran pada “Bukan Pentas Srimulat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s