Bangga

Tak terbayangkan, betapa bangga dan senangnya urang Sunda bila situs Gunung Padang terawat. Ia akan menjadi obyek wisata. Juga lahan kajian ilmu pengetahuan. 

Sebagai urang Sunda bolehlah kita bangga. Reueus. Belakangan ini banyak orang mengalihkan mata mereka ke tiga daerah di Jawa Barat: Gunung Sadahurip (Garut), Gunung Lalakon (Bandung), dan Gunung Padang (Cianjur). Tiga titik itu jadi pusat perhatian. Pangkalnya, diduga ada piramida di ketiga gunung tersebut.

Berita keberadaan piramida di tiga daerah itu betul-betul mengejutkan. Para ilmuwan mendapati bahwa masyarakat kuno yang berdiam di kepulauan Nusantara ini tak mengenal piramida sebagai tempat pemujaan. Mereka hanya mengenal punden berundak atau candi. Penemuan ini seperti menohok pengetahuan para ilmuwan. Benarkah? Lalu, meruaklah berbagai spekulasi, baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat luas.

Jika kebenaran piramida di Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon masih perlu pembuktian lebih lanjut, maka penemuan Balai Arkeologi Nasional di Gunung Padang sudah terbukti. Memang betul di gunung yang masuk wilayah Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur itu ada situs megalitik terbesar se-Asia Tenggara. Berjejer rapi di Gunung Padang, bebatuan yang diduga sebagai tempat pemujaan masyarakat kuno itu masih berdiri. Namun, bukan piramida, melainkan punden berundak. Yang menarik, teknik artitektur situs itu dibuat dalam rangka menanggulangi bencana alam, seperti longsor.

Konsep arsitektur bangunan purba ini menandakan bahwa mereka selalu menatap masa depan, selalu melampaui saat ini. Mereka mempertimbangkan semuanya, seperti arah angin, kemungkinan bencana, pendar cahaya purnama. Tak ada yang tertinggal.

Mereka menggunakan konsep, engke kumaha, bukan kumaha engke. Segala sesuatunya mereka rencanakan secara baik, mereka tata dengan sempurna. Untuk menghindari berbagai kerusakan atau efek buruk yang menimpa mereka kelak. Tak ketinggalan, para karuhun itu menjalani keseharian dengan sikap ramah lingkungan. Alam, bagi mereka, adalah tanah dan penghidupan mereka. Bila alam dirusak, penghidupan mereka pun tentu rusak.

Lalu, sebagai urang Sunda siapa tak bangga dengan penemuan ini? Para karuhun bisa membangun bangunan tempat pemujaan yang megah itu dengan canggih, padahal saat itu teknologi masih sederhana. Belum ada alat-alat berat. Bahkan, ada yang memahat batu masih menggunakan batu.

”Bener, urang Sunda mah emang harebat!” Ya, dan memang terbukti.

Itu baru di Gunung Padang. Belum di Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon. Jika di kedua tempat itu benar-benar ditemukan piramida, maka kebanggaan kita betul-betul menanjak. Tapi, jika pun di keduanya tak ditemukan piramida, cukuplah Gunung Padang sebagai titik utama kita untuk berbangga.

Bangga, tentu saja, boleh-boleh saja. Tak ada yang melarang. Sah malah. Tapi yang lebih penting kita harus memupuk kebanggan itu dengan tindak nyata. Tanpa itu, kebanggan yang ada hanya menjadi semacam omong kosong. Tak ubahnya perut kosong: berbunyi kriuk, tapi menyakitkan.

Gunung Padang harus kita jadikan sebagai pengingat, sebagai penanda, bahwa para pendahulu kita hebat, canggih. Logikanya, kita harus lebih hebat, lebih canggih. Hanya dengan cara itu, kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita memang pantas berbangga dalam arti reueus. Kita dihargai karena kekuatan dan kemampuan kita, bukan karena para pendahulu kita.

Nah, jika masih ada urang Sunda yang masih membanggakan temuan-temuan itu, lalu lupa berbuat sesuatu, mungkin sudah saatnya kita mengingatkannya. Saat ini kita hidup di zaman orang memandang karya dan tindakan nyata, bukan kebanggan pribadi atau keluarga. Bukan karena karuhun. Betapa cilaka kalau ada generasi muda urang Sunda yang mengagung-agungkan temuan-temuan terbaru di tiga daerah di Jawa Barat itu tanpa melakukan sesuatu.

Maka, ada dua hal yang bisa kita lakukan: pertama, kita dorong para peneliti untuk menelaah ketiga tempat itu dengan saksama. Juga dengan tenang, tanpa dirongrong kontroversi dan polemik tak berkesudahan yang malah kontraproduktif. Dengan demikian, mereka bisa menggunakan waktu mereka hanya untuk meneliti, bukan menanggapi kontroversi.

Kedua, kita melakukan sesuatu yang nyata untuk melestarikan temuan yang sudah benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, yakni di Gunung Padang itu. Bisa dalam bentuk penggalangan dana, karena alokasi dana penelitian masih kurang. Bisa juga dengan membuat website khusus yang menyimpan berbagai informasi mengenai Gunung Padang. Atau, melakukan penyadaran kepada khalayak untuk menjaga situs Gunung Padang dengan baik.

Menurut pengamatan Kompas Sabtu, 3 Maret 2012,  kondisi situs Gunung Padang memprihatinkan. Tak ada batas zonasi wilayah atau dukungan sumber data akurat untuk memperoleh informasi kawasan itu. Beberapa pengunjung sempat memindahkan bebatuan, yang pada akhirnya mengubah konsep secara keseluruhan. Juga batuan andesit yang ada dibiarkan berserakan seperti tak terurus.

Kita harus benar-benar belajar dari berbagai situs sejarah yang sangat bernilai, seperti situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Karena kecerobohan Departemen dan Pariwisata yang ingin membangun Pusat Informasi Majapahit, peninggalan sejarah Majapahit itu hampir punah. Atau juga kasus-kasus benda-benda bersejarah lainnya yang hilang karena dicuri.

Tak terbayangkan, betapa bangga dan senangnya urang Sunda bila situs Gunung Padang terawat. Ia akan menjadi obyek wisata. Juga lahan kajian ilmu pengetahuan. Turis lokal maupun internasional berdatangan; ilmuwan lokal maupun internasional menelaahnya. Berapa ribu pasang mata akan memerhatikan keagungan dan kemegahannya. Reueus.Pisan.

Namun, kalau tak dirawat dengan baik tentu akan menimbulkan kebanggaan lain: bangga yang bermakna sulit atau susah. Mau tahu rasanya? Bayangkan kita di atas panggung, dan ditonton ribuan orang. Mereka membeli tiket mahal untuk melihat penampilan terbaik kita. Bersorak sorai, menantikan kehadiran kita. Kita pun maju. Tampil ke muka. Ternyata saat tampil kita tak bisa apa-apa. Bisu. Gugup. Gagal.

Jika begitu, syukur-syukur pulang tak babak belur.

Maukah kita babak belur dengan hanya menampilkan kebanggaan semata tanpa melakukan sesuatu? Jika iya, maka betapa bangga kita.

PS: Gambar saya ambil dari bisnis-jabar.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s