Usaha Apa?


Pukul 11:40. Kereta Prambanan Ekspres melaju perlahan dari stasiun Lempuyangan. Kereta ini mengantarkan penumpang dari Jogjakarta menuju Solo. Di gerbong terdepan cuma beberapa bangku yang terisi. Bangku di gerbong ini bukan yang memanjang dan menempel di dinding kereta, melainkan yang saling berhadapan dan hanya bisa menampung tiga penumpang per bangku. Seorang lelaki tua duduk di bangku dekat pintu gerbong sebelah kiri. Di depannya ada seorang gadis. Menyilangkan kakinya, gadis itu memainkan Blackbery-nya.

Saat Lempuyangan hilang dari pandangan, lelaki tua itu berdiri dan berjalan. Kecepatan kereta mulai seimbang, tapi tidak demikian dengan lelaki tua itu. Langkahnya goyah karena badan kereta yang goyang.

Setelah tiga-empat kali melangkah, ia mengambil duduk di bangku sebelah kanan. Setelah duduknya tenang, ia membenarkan letak topinya, lalu mengacarai obrolan dengan penumpang di depannya. Seorang lelaki berbaju batik.

“Ke Solo, Mas?”

Lelaki berbaju batik itu ingin menjawab, “Ke Jember,” tapi nanti malah memperunyam masalah ia menjawab datar. “Iya, Pak. Mau ke UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), ketemu teman. Bapak ke Solo juga?”

“Iya.” Ia tersenyum, menunjukkan barisan giginya yang masih rapih jali, meski tampak menguning karena bekas rokok.

Dari situ, obrolan meningkat. Tampak, sebenarnya lelaki berbaju batik itu enggan mengobrol. Ia sudah mengeluarkan buku untuk ia baca di perjalanan. Ketika obrolan itu terjadi, ia memegang bukunya. Kakinya disilangkan. Itu untuk memberi semacam peringatan, bahwa ia ingin membaca buku dan tak mau diganggu. Alih-alih diam, lelaki tua itu malah mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.

“Masih kuliah?”

“Oh, sudah tidak, Pak. Sudah lulus.”

Lelaki berbaju batik itu pun menyimpan bukunya di sebelah kiri. Penampakan lelaki tua itu mengingatkannya kepada sosok Pramoedya Ananta Toer, penulis tenar. Tentu saja hanya secara sekilas. Yang paling kentara, senyum dan kacamatanya. Itu pun cuma sekilas.

“Saya habis pulang dari Jogja. Habis periksa mata. Saya pakai kacamata karena mata saya katarak. Tapi kalau baca masih bisa. Boleh saya pinjam bukunya?”

Ia ingin membuktikan matanya masih awas dengan membaca buku lelaki berbatik itu, dan begitu memegang buku ia mulai mengeja huruf-huruf yang ada di sampul depan.

“All the President Man. Cerita detektif politik terdahsyat sepanjang masa. The One New York Times Best Seller.”

Setelah kelar, ia membalik buku itu dan membaca sampul belakang. Kurang puas, ia membuka halaman demi halaman, dan membacanya dengan keras. Suaranya hampir mengatasi suara kereta. Beberapa penumpang meliriknya.

“Nah, kan. Masih bisa saya. Umur saya itu 70 tahun 4 bulan.”

Ia menyebut dirinya Mbah Winarno. “Sudah tua. Sudah 70 tahun 4 bulan. Panggil saja Mbah.”

Menurut ceritanya, pendidikan terakhirnya SMA pada tahun 60-an. Ia tak meneruskan pendidikannya karena masalah biaya. Tapi, ia sangat senang bahasa Inggris dan matematika.

“Bahasa Inggris saya selalu 9 koma, Mas. Matematika juga 9.”

Lalu, ia nyerocos pakai bahasa Inggris. Dan menerangkan beberapa rumus matematika, yang tak pernah dimengerti lelaki berbaju batik itu. Dari rautnya, lelaki berbaju batik itu seakan ingin mengatakan, “Maaf, Pak, pas pelajaran matematika saya gak masuk. Jadi, gak ngerti bagian ini.”

Sehari-hari lelaki tua itu bekerja sebagai supir. Tak mau mengulang penderitaannya, ia menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

“Sudah bekerja anak-anaknya sekarang, Pak?”

Terdiam, ia menggerakkan bibir atas dan bawahnya. Tangannya membolak-balikkan barang bawaannya, obat dalam pastik.

“Saya itu suka sedih kalau ditanya seperti itu. Mindset seperti itu harus diubah. Pertanyaannya, usaha apa mereka? Kalau usaha, itu berarti mengamalkan ilmu pengetahuan yang mereka dapat di bangku sekolah untuk kehidupan mereka.

“kalau bekerja di mana, itu berarti ya menjadi kuli. Menjadi pekerja. Tidak kreatif. Tidak bisa mengamalkan pengetahuan yang didapat di bangku sekolahan.”

Menurutnya, itu karena pola pikir khas orang Jawa. Berbeda dengan bangsa lainnya. Orang Jawa itu seperti itu. Ingin menjadi pekerja.

“Itu tidak dinamis. Mestinya hidup itu dinamis. Dengan usaha, hidup menjadi dinamis. Itu menurut saya lho. Usia saya sekarang 70 tahun 4 bulan.

“Kita harus merubah mindset itu. Biar seperti bangsa lain. Biar maju. Anda harus mengabarkan ke yang lainnya, ya.”

Di tengah obrolan, ia meminta maaf bila banyak bicara. “Saya itu punya banyak penyakit, Mas. Saya kena darah tinggi, mag, katarak. Wah, istilahnya komplikasi. Makanya, saya tak sabaran menunggu. Daripada dalam perjalanan ini menunggu sampai tujuan, dan karena itu saya sering jenuh, saya mengajak obrol-obrol begini dengan Anda. Kalau jenuh, saya marah-marah.”

Ia mengeluarkan dompet, dan merogoh ke dalamnya. Mengeluarkan satu per satu obat untuk penyakitnya, sambil memperagakan cara meminumnya, “Ini diminumnya harus di bawah lidah,” ada yang untuk darah tinggi dan ada untuk mag.

Lelaki berbaju batik itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Jadi, usaha di mana anak-anaknya, Pak?”

“Ya, ada yang menjadi akuntan, ada juga yang menjadi perawat.”

Lelaki berbatik itu agak memundurkan kepalanya, mengerutkan dahi, mengangguk, tanpa sadar mengeluarkan kata, “Ooo.”

“Ada juga lho, Pak, yang bekerja tapi malah mengembangkan kemampuan dan keahlian di bidangnya.”

“Oh, ya itu lebih baik. Tapi, jangan cuma jadi pekerja. Just work from eight to five or else.”

Lelaki berbatik itu hanya tersenyum simpul, sambil mengiyakan. Sesekali mengangguk.

“Saya itu supir. Antar-antar barang matrial. Saya sering mengajak anak-anak saya, padahal perempuan semua, untuk ikut melihat pekerjaan saya. Biar mereka melihat bagaimana susahnya ayahnya bekerja.”

“Mobilnya milik pribadi?”

“Ya tidak tho. Saya dulu ikut orang. Tapi karena sudah tua saya dipinjami modal oleh saudara-saudara saya yang sukses. Sekarang, ya biar mobil sudah tua dan butut, saya punya mobil sendiri untuk mengantar barang-barang matrial dari toko saya. Ya, toko kecil-kecilan lah.”

Tanpa terasa, kereta sampai di stasiun Wonosari. “Oh, ini sudah dekat. Kalau saya turun di stasiun Jebres. Anda mau ke UNS, kan? Enaknya turun di stasiun Balapan saja. Dari situ naik angkutan bus Atmo. Bilang saja turun di UNS. Kasih saja Rp2000.”

Obrol beberapa hal lagi. Tentang anak-anaknya yang cantik, dan beberapa kali dilamar orang kaya tapi tak ia terima. “Bagi saya, orang itu harus sederhana. Percuma kaya kalau itu kekayaan orangtuanya.”

Tak berapa lama kemudian, kereta merapat ke stasiun Balapansolo. Lelaki berbatik itu memasukkan bukunya ke tas. Obrolan kedua penumpang itu berakhir.

“God bles you.”

“And You, Mbah Winarno. See you next time.”

“Oke, oke.”

Sekira lima menit kemudian kereta Prambanan Ekspres melaju kembali, dan lelaki berbaju batik itu naik bus angkutan umum. Lelaki tua itu masih di dalam kereta. Entah mendekati penumpang yang mana lagi ia untuk menghabiskan perjalanannya kali ini. Lelaki berbaju batik itu khawatir darahnya naik bila ia menyendiri di bangkunya dan tak menyalurkan ceritanya. Sejanggal apa pun, ceritanya harus didengarkan. Agar ia tak jenuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s