Sandal Pertolongan

Langit hampir gelap. Lampu jalanan mulai berpijar; lampu kendaraan menembak jalanan. Dan, di sanalah ia. Berdiri di bibir terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan lelaki itu menjaga koper bawaannya dengan tangan kirinya. Tas kamera diselempangkan di sebelah kanan; tas lainnya berisi laptop tergendong di punggung. Lalu lalang penumpang dan angkutan umum datang dan pergi silih berganti. Sembari menunggu taksi, ia mengirimkan pesan pendek ke temannya bahwa ia sudah di Jakarta kembali. Mereka ada janji bertemu untuk membahas sebuah pekerjaan yang harus segera selesai. Menyadari ruang pesan pendek di ponselnya penuh, ia menghapus satu per satu pesan yang ada. Ia memilah, mana yang penting dan mana yang tidak.

Sekali lalu melihat taksi yang mungkin saja datang dari arah timur, pandangan lelaki itu jatuh ke seorang pria pedagang sandal. Memikul tas besar berisi barang dagangannya, pundak kanan pedagang sandal itu agak naik untuk menahan beban tas itu. Mengenakan kaos berlengan panjang, dari kejauhan tak terlihat jelas bahwa tangan sebelah kanannya itu hanya sampai siku. Lelaki itu lalu mengamati kembali ponselnya, memeriksa pesan yang masuk.

Pedagang sandal itu langsung mendatangi tukang ojek yang ada di belakang lelaki tersebut. Ditingkahi suara klakson dan deru angkot, sayup-sayup terdengar suara pedagang itu agak bergetar. “Pak, minta tolong, Pak. Tolong beli barang dagangan saya.”

Tapi, ia tak mendapatkan respon. Ia pun menawarkan ke beberapa orang yang sedang menunggu angkutan umum, termasuk kepada lelaki yang sedang menunggu taksi itu. Saat pedagang itu sudah berada di depannya, lelaki itu mendengar gemertak gigi pedagang sandal itu.

“Pak, tolong beli, Pak. Saya sudah tiga hari jualan, tapi gak laku satu pun.”

Tak percaya begitu saja, lelaki itu menyelidik. “Gak laku tapi kok kamu merokok?”

“Ini puntung, dikasih sama orang,” katanya.

Melihat bentuk dan warna rokoknya, lelaki itu tak lantas percaya percaya. Rokok itu bersih, tak seperti puntung yang pedagang itu utarakan. Puntung biasanya kotor di pinggirannya. Kemungkinannya, ia membeli atau memang diberi seseorang.

Ia mengusap keringat di wajahnya yang menghitam karena matahari dengan kaosnya. Nafasnya memburu. “Satu saja, Pak. Tolong, beli. Saya buat ongkos pulang. Saya gak ada uang buat pulang.”

“Pulang ke mana, memang?”

“Ke Bandung. Asli sayah Banten, tapi ini bosnya di Bandung. Di Padalarang.”

Mata pedagang itu agak redup, tak lagi ada semangat. Saat menawarkan, matanya seperti menahan laju air mata; bibirnya agak mengatup.

“Ya sudah, berapaan sandalmu? Coba, yang ini berapa?” tanya lelaki itu sambil melihat sandal gunung mereknya Erger; tampaknya ini saudara kembar tak identiknya Elger.

Pedagang sandal itu lalu menurunkan tas dagangannya dari pundaknya. Melihat besar dan penuhnya tas itu, terbayang berapa berat beban yang ia tanggung setiap saat. Lalu tangan sebelah kirinya menyimpan terlebih dahulu rokoknya dan dengan cekatan membuka tas itu. Ia mengaduk-aduk tas, sampai akhirnya menemukan pasangan sandal gunung yang ditanyakan lelaki itu.

“Ya, berapaan ini?”

“Ini, Pak. Sudah ada harganya.”

Begitu melihat, kagetlah lelaki itu. Harganya Rp 57.000.00. Ia mengira harga sandal macam itu sekitar Rp 30.000. Tapi sudah kadung, ia tak tega juga melihat usaha pedagang itu yang sudah berusaha. Ia menawar sandal itu Rp 50.000.

“Tambah dua ribu lagi, Pak. Buat ongkos pulang ke Bandung, Pak.”

Lelaki itu mengeluarkan dompetnya, mengambil satu lembar 50 ribuan dan satu lembar 5 ribu. “Ini, Kang.”

Begitu menerima uang dari lelaki itu, pedagang tersebut begitu bungah. Seperti menjalani ritual, uang 50 ribuan itu ia kepret-kepretkan ke barang dagangannya. Dengan harapan, barang dagangannya laku.

Ia memberesi kembali tasnya, tapi tak bisa. Entah karena senang atau bagaimana, tangannya gemetar. Ia tak bisa menutup resleting tasnya. Melihat itu, lelaki tersebut membantunya menutup tas itu. Pedagang itu pamit, lalu mengucapkan terima kasih. “Semoga rezekinya lancar,” ia mengucapkan doa kepada lelaki itu.

“Amin. Tapi, kurang merokok, Pak. Bukannya untung malah buntung, Pak. Sudah menikah?”

“Sudah. Anak saya satu.”

“Apalagi sudah punya anak. Pikirkan istri dan anak, Pak. Merokok itu boros.”

Ia lalu mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek yang ada di sebelah lelaki tersebut.

Begitu pedagang itu menjauh, tukang ojek itu bilang kepada lelaki tersebut,” Wah, dia mah dagang. Itu dagang kali. Jangan percaya.”

Lelaki itu sadar, bisa jadi memang begitu. Tapi, ia tak ambil pusing. Toh, ia masih ada kesempatan untuk menolong orang lain. Juga ia mendapatkan sandal baru. Soal yang ditolong itu menipu atau tidak, itu urusan yang ditolong dan Tuhan; ia tak ingin ikut campur soal ini.

Beberapa saat kemudian, sebuah taksi kosong meluncur, dan lelaki itu menghentikannya. “Tolong ke Pamulang, Pak,” katanya kepada supir. Perlahan, taksi meninggalkan terminal, meninggalkan sebuah pelajaran penting arti kehidupan bahwa ia harus selalu bersyukur atas semua yang ia dapat dengan memberikan bantuan semampunya kepada siapa pun yang membutuhkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s