Belum Ada Judul

Apa yang terlintas di benak Anda ketika membaca judul di atas? Teringat sesuatu? Ya, itu merupakan salah satu judul lagu Iwan Fals, “Belum Ada Judul”. Pernah Kita sama-sama susah/ terperangkap di dingin malam…

Judul yang aneh, dan lebih aneh lagi saya memakai judul itu untuk tulisan ini. Tapi, tak ada yang tahu, bahkan hingga saat ini, kenapa Iwan memberi judul salah satu lagunya dengan itu. Bisa jadi, ia memang tak hendak memberi judul atau memang tak menemukan ide dan kata yang pas untuk mewakili isi lagu tersebut. Terlepas berbagai alasan, dalam sebuah karya judul memiliki peran penting. Apalagi dalam tulisan. Tanpa judul memikat, sebuah tulisan hampir bisa dipastikan tak dilirik orang. Banyak juga tulisan yang diberi judul menarik, dan menjadi perhatian banyak orang, padahal dari segi isi biasa saja.

Gampang-gampang susah memang menentukan sebuah judul. Ada banyak cara untuk mencari judul. Ada seorang pengarang yang menentukan judul terlebih dahulu, lalu kemudian menemukan bentuk cerita dan plotnya sesuai dengan apa yang terlintas dalam benak. Menuangkan gagasannya dalam sekian karakter dan kata, lalu, simbsalabim, tulisan itu jadi.

Ada pula yang menentukan sebuah judul belakangan. Yang penting, mengolah gagasan utama dan mengalirkannya dalam bentuk tulisan. Setelah kelar, baru memikirkan judul yang bisa mewakili sebuah tulisan tersebut.

Dari judul, kita bisa tahu apa isi tulisan atau sebuah buku. Misalnya, Ketika Nabi di Kota. Buku itu, tentu saja, menceritakan berbagai kegiatan nabi ketika beliau di Madinah. Secara harfiah, Madinah berarti kota. Dan memang, buku itu memuat apa saja yang nabi lakukan di kota tersebut; sejauh mana perubahan yang terjadi, baik secara fisik, sosial, politik. Semuanya diulas dengan tuntas.

Namun, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika membaca judul Gantungkan Cambuk di Rumah Anda. Pertama, buku itu berisi tentang saran aksesoris yang harus dipasang di rumah Anda. Kedua, buku itu merupakan cara-cara untuk mengelabui maling, bahwa Anda sakti. Percayalah, kedua asumsi itu keliru. Itu buku tentang mendidik anak ala Rasulullah.

Sebagai seorang ayah, judul itu langsung menohok saya. Apalagi di sampul buku itu terdapat bayi sedang merangkak, dan tulisan kecil di pojok: seni mendisiplinkan anak ala Rasulullah. Hmm, saya jadi membayangkan, betapa rasulullah otoriter. Seakan, berkaitan dengan anak rasul bersiap sedia memegang cambuk.

Padahal, cara untuk mendisplinkan anak, yang paling mudah, ya memberi teladan. Kalau orangtua tidak disiplin, mana mungkin menuntut anak disiplin. Kalau anak diminta bertanggungjawab, lalu orangtua tak bertanggungjawab, mana bisa seorang anak bertanggungjawab.

Bagi saya, judul itu fatal. Menampilkan sisi kegarangan Rasul. Padahal, apa yang nabi lakukan ketika Husain naik ke pundaknya ketika beliau sedang shalat? Beliau diam, lama sujud demi memuaskan Husain. Lalu, setelah Husain turun, beliau berdiri.

Namun, bagaimana rasul mendisiplinkan anak-anaknya? Dengan teladan. Siapa pula yang lupa ketika Nabi bersabda, “Kalau Fatimah mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Pencitraan? Tidak. Adapun Fatimah tak dipotong tangannya, karena memang dia tidak mencuri.

Jadi, judul itu memberi kesan bahwa Rasul keras. Ada beda antara tegas dan keras. Tegas, tidak selalu menggunakan senjata. Ada orang yang bahkan, menggunakan seruan saja sudah gentar. Dan, itu lebih baik. Berarti jiwanya memang pemberani.

Kalau pengecut, ya menggunakan senjata. Tapi, apakah ke anak kecil, apalagi anak kita, kita harus menggunakan senjata? Saya kira, tidak. Hati hanya bisa diluluhkan dengan hati, bukan dengan senjata.

Jadi, dalam menentukan judul, kita harus berhati-hati. Entah saking hati-hati atau memang tak tahu harus bagaimana, sampai berakhirnya tulisan ini saya tak tahu harus memberi judul apa tulisan ini. Baiklah, nanti kalau memang sudah ada judul yang terlintas, saya kasih tahu lewat tulisan lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s