Ihwal Tambal Ban dan Bagaimana Mengantisipasinya

20120319-pentil-ban-dalam-1

Bila diibaratkan, mencari penambal ban yang jujur itu seperti memancing ikan di kolam yang baru saja ditaburi pelet sekian karung. Selama mengendarai motor, saya jarang sekali menemukan penambal ban yang hanya menambal. Dia akan mencungkil ban, mengotak-atik pentil ban sehingga rusak, atau merobek ban dalam. Dari mana saya tahu? Mudah saja. Bila memang ban kita robek besar dan kita baru merasakan bocor sekira beberapa meter, curigailah bahwa itu pekerjaan si penambal ban; atau bila memang pentil ban dalam kita sobek padahal kita tak mengendarai motor, curigai pula bahwa memang itu pekerjaan si penambal.

Untuk mengantisipasinya, lihat dan awasilah pekerjaan si penambal ban. Cermati gerakan tangannya. Namun, tindakan kita ini harus kita lakukan dengan baik, bila tidak si penambal akan marah. Saya pernah hampir berkelahi dengan satu penambal ban gara-gara melihat cara kerjanya. Saya lihat satu per satu. Saya ada di dekatnya. Bagi saya, kemarahan si penambal ini adalah tanda bahwa dia memang ingin melakukan sesuatu terhadap ban saya, mengingat motor sebelum saya terpaksa harus mengganti ban dalamnya, dan si pemilik motor mengumpat-umpat, meski lirih.

Tentu saja, kita paham motif ini. Bila menambal, si penambal hanya akan mendapatkan jasa sekitar Rp7000-8000, sementara kalau mengganti ban dalam akan mendapatkan lebih banyak. Harga dasar ban dalam itu sekitar Rp20.000. Ia bisa menjualnya sampai Rp35.000. Bahkan ada yang menjualnya Rp40.000 Tentu saja, selisih harga itu menggiurkan bukan, di samping fakta bahwa mereka tak setiap jam mendapatkan pelanggan. Mereka mendapatkan pelanggan yang memang sedang kena apes saja, entah itu bocor karena memang teknis ataupun bocor karena menginjak barang yang tajam, seperti paku.

Ban luar bagian belakang saya memang sudah gundul. Sudah semestinya ganti. Namun, saya tak kunjung menggantinya. Tipisnya ban luar bagian belakang itu membuat ban dalam makin rentan bocor. Namun, sungguh tidak masuk akal bila dalam rentang 2 jam ban belakang motor saya bocor 2 kali, padahal itu ban baru. Usianya belum 2 jam. Ketika bocor kedua, saya memutuskan untuk mengganti ban dalam dan luar sekalian. Kembali ke dua tukang tambal ban sebelumnya juga bukan pilihan rasional.

Bagaimana menanggulangi hal ini, saya kira ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, membawa cadangan ban dalam berkualitas bagus. Ciri-ciri ban berkualitas bagus adalah elastis. Jangan sekali-kali membeli ban dalam yang keras. Bila membeli di toko atau bengkel besar, harganya akan lebih murah ketimbang membeli di tukang tambal ban. Bila kita membawa ban cadangan, si penambal ban akan mendapatkan uang jasa mengganti dan pemasangan ban. Bagi saya, ini cukup adil. Tindakan ini kita ambil bila memang ternyata ban dalam kita harus benar-benar diganti.

Atau kedua, menggunakan ban tubles. Dengan ban tubles, niscaya ban yang kita gunakan bila pun terkena paku tak akan langsung kempes. Ia masih bisa kita gunakan hingga sampai jarak tertentu, bahkan mungkin sampai kita pulang ke rumah.

Apakah saya sedang melakukan generalisasi bahwa penambal ban di pinggir jalan brengsek semua? Tidak. Sama sekali tidak. Ada banyak tukang tambal ban yang baik, namun sayangnya, begitu ban kita bocor kita bertemu dengan penambal brengsek yang sengaja menyobek atau mencungkil ban dalam kita sehingga kita terpaksa membeli ban dalam baru dari dia.

PS: Gambar saya pinjam dari sini

Iklan

2 pemikiran pada “Ihwal Tambal Ban dan Bagaimana Mengantisipasinya

  1. “Bila diibaratkan, mencari penambal ban yang jujur itu seperti memancing ikan di kolam yang baru saja ditaburi pelet sekian karung. ”

    Tergantung dimana kali ya. Alhamdulillah aku belum pernah mengalami hal seperti itu selama tinggal di Surabaya. Terakhir tahun lalu (2012), sepeda motoran berdua dengan anakku. Pas apes ban bocor, gak jauh dari pasar Atom. Hot potato [panas ngenthang ngenthang πŸ˜€ ], nuntun sepeda motor, kemringet.
    Si tukang tambal ban, ngerjainnya halus. Mbuka pentil ban pake alat, gak dicongkel paksa. Mbuka ban luar juga hati hati, gak diperkosa dulu.

    Kelamaan tinggal di Jakarta, banyak orang brengsek, pindaho ae nyang kutho cilik, satu dengan yang lain saling mengenal. Kalau ada yang brengsek ketahuan.

    1. Yo, jane di Jakarta. Memang, perlu spesifik sih disebutkah di dalam tulisan. Suwun..

      Wahahaha.. Jakarta ini melahap para penghuninya lama kelamaan. Tapi, gilanya, para penghuninya senang tidak senang, ya tetap saja hidup di Jakarta. Dungakno mben aku cepet mulih kampung, ternak kambing karo nyawah… πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s