Sikap Sentimental Seorang Ayah?

Entah karena saya seorang ayah baru atau bagaimana, setiap melihat bayi saya selalu sentimental. Saya selalu terenyuh melihat bayi yang disia-siakan orangtuanya, baik itu dengan menjadi alat untuk meraup rupiah dengan membawanya ketika mengamen di tengah jalan ataupun ketika ia mendapat perlakuan kasar dari orang dewasa. Saya selalu ingin memeluk dan melindunginya, seakan ia anak saya, putri saya tercinta.

Saya sering mengalami peristiwa ini, dan salah satunya terjadi pada suatu malam. Di perempetan Fatmawati itu saya pernah menangis. Ini adalah rute sehari-sehari pulang-pergi dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Lampu menyala merah ketika itu. Saya menghentikan motor, dan di tengah bisingnya klakson dan deru mesin kendaraan, saya melihat ke kanan. Di sana ada beberapa ibu dan beberapa gadis sedang duduk sambil menyandarkan tubuh mereka ke pagar taman yang berada tepat di depan rumah sakit Fatmawati.

Tanpa sengaja, saya melihat seorang bayi, sekira usia 1 tahun kurang, dan rambutnya belum lagi tumbuh semua. Bagian belakangnya masih plontos. Ia sedang digendong oleh seorang anak berusia antara 8-10 tahun yang menggoyangkan kecreknya di depan para pengendara motor. Melihat potongan rambut bayi itu, saya langsung ingat putri saya. Meski postur tubuh dan bentuk kepalanya beda dengan putri saya, tetap saja ia mengingatkan saya kepada putri saya. Apa jadinya bila putri saya yang menjalani laku keras seperti ini? saya akan menjadi gila dibuatnya. Tak mungkin. Tak boleh.

Deg! Saat itu, sungguh, tanpa terasa dada saya seakan dihantam sesuatu. Saya merasa kosong. Melompong. Tanpa terasa air mata saya meleleh. Ah, seperti saya bilang, tiba-tiba saja saya menjadi terlalu sentimental.

Apakah memberinya uang akan menyelamatkannya dari kehidupan jalanan yang ganas? Ketimbang berpikir terlalu ideal dan bagi saya terlalu muluk-muluk—seperti memberikan penghidupan layak bagi mereka—saya merogoh kantong dan memberi uang sekadarnya kepada bocah yang membawa bayi itu. Setidaknya, itu yang bisa saya lakukan saat itu.

Marah? Hanya orang tolol yang tak marah melihat kenyataan tersebut. Namun, melabrak dan mencibir mereka tanpa memberikan alternatif juga bukan pilihan terbaik. Saya yakin, ibu-ibu yang menggunakan anak-anak mereka untuk mendulang rupiah ini akan tetap ada kalau sistem pemerintahan kita belum juga membaik. Revolusi? Tentu saja itu yang kita inginkan. Tapi, itu jangka panjang.

Untuk konteks kebijakan publik, yang harus kita lakukan saat ini adalah mendorong para pemimpin muda berintegritas untuk mau maju dalam arena pemerintahan dan melakukan perbaikan sistem dari dalam. Apa yang Jokowi-Ahok lakukan adalah contoh konkret, betapa kita masih punya harapan. Soalnya sekarang, kita harus memperluas dan memperbanyak orang-orang seperti ini untuk muncul. Orang seperti Jokowi-Ahok ini tak hanya satu biji di Indonesia ini. Ada buanyak potensi pemimpin di daerah. Mereka bersih, mau bekerja untuk rakyat, dan mampu melakukan perubahan. Makanya, yang harus kita lakukan adalah mendorong mereka untuk muncul dan berani tampil. Bila saat ini politik sudah kadung diartikan dengan berbuat culas, saat ini  kita kembalikan politik ke makna hakikinya: untuk mengabdi kepada kepentingan publik.

Sembari menunggu dan melihat-lihat, saat ini yang paling mungkin dilakukan adalah memperbaiki keluarga. Apakah ini egois, seakan hanya memperhatikan keluarga? Bagi saya justru tidak. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan perubahan di luar bila ternyata keluarga sendiri morat-marit. Ukuran utama bila kita ingin melakukan perubahan adalah keluarga kita sendiri.

Lalu, dalam hal ini apa yang harus saya lakukan sebagai ayah? Pertama sekali, saya akan menyatukan pandangan dengan istri saya, akan dibawa ke mana keluarga ini? Sejauh ini, alhamdulillah, saya dan istri sudah menyatukan visi-misi itu. Untuk mewujudkan visi tersebut saya akan mencari uang halal. Sebagai muslim, saya mengimani bahwa uang haram yang masuk ke darah setiap anggota keluarga akan mendatangkan efek buruk pada kemudian hari. Bukankah dalam istilah bisnis ada prinsip yang disebut garbage in, garbage out. Yang masuk sampah, yang keluar pasti sampah. Tentu mustahil, bila yang masuk sampah keluar emas.

Kedua, memberikan pendidikan terbaik kepada anak. Memasukkan anak ke sekolah terbaik, jika bisa kenapa tidak? Namun, pendidikan di sini bukan hanya sekolah, melainkan karakter yang dibangun di dalam keluarga. Tentu saja, kita jangan berfokus kepada simbol-simbol yang justru malah mendangkalkan pikiran anak kita, seperti menanamkan kejujuran tapi orangtuanya masih saja berbohong. Segala nilai yang orangtua ajarkan kepada anak, harus terlebih dahulu dipraktikkan orangtua. Tak boleh ada standar ganda. Bila anak ingin pintar, jangan paksa anak untuk terus membaca buku sementara ibu dan ayahnya gemar memainkan ponsel pintar atau menonton televisi. Itu namanya standar ganda. Jika ingin anak pintar, orangtuanya harus pintar terlebih dahulu. Bila ingin anaknya sopan, orangtuanya harus sopan terlebih dahulu.

Dalam hal ini, saya dan istri tak mendorong anak kami menjadi pintar atau kaya. Keinginan kami sederhana, agar ia baik kepada semua orang dan menyebarkan manfaat kepada sebanyak mungkin orang. Makanya, saya menamai putri kami, Pendar Cahaya Nurani. Agar ia kelak bisa memberikan cahaya nurani kepada siapa pun, tanpa memandang bulu. Nurani adalah sesuatu yang sangat identik dengan kebaikan.

Apakah kami tak ingin anak kami pintar? Tentu ingin. Menjadi pintar adalah tuntutan masyarakat. Tapi tak sekadar pintar. Orangtua mana yang bangga memiliki seorang anak yang hanya pintar namun tak mengindahkan tata aturan?

Begitu pun dengan kekayaan. Hidup serba kecukupan bukanlah aib. Sekali cukup, tetap cukup. Buat apa ngoyo ingin memiliki sekian puluh mobil atau rumah pribadi, kalau ternyata satu mobil dan satu rumah cukup? Sisanya, simpan untuk keperluan di kemudian hari. Bila memang berlebih, lakukan sesuatu untuk masyarakat sekitar. Itu mimpi keluarga kecil kami. Dan, dengan mimpi itulah kami membangun nahkoda keluarga kami.

Setelah nahkoda keluarga kukuh, baru kita memasangkan layar untuk mengarungi lautan dan mengangkat sesiapa di tengah lautan yang membutuhkan bantuan kita. Kita bisa membantu, karena memang kita sendiri sudah tidak lagi memerlukan bantuan orang lain.

Saya kira, itu yang mungkin saya lakukan saat ini. Berhasilkah saya? Belum tentu. Waktu yang akan membuktikannya. Namun, bila belum apa-apa sudah pesimis, berarti perasaan sentimentil saya percuma. Sia-sia. Bila demikian,jangan-jangan rasa sentimentil saya didorong ingin dianggap bersosial saja.

Ah, semoga tidak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s