Robot Baja Hitam

baja hitam

Jakarta, 1993

Memasuki bulan puasa, ayahku tidak menjual makanan; beliau menjajakan mainan, seperti kartu gambar, lilin-lilinan, ular tangga, bola bekel, dan komik Petruk karya Tatang S. Betapa senang aku melihat semua itu ada di dalam rumahku. Bagiku, ini keistimewaan. Hampir setiap hari aku bisa memainkan apa pun yang ada di dalam kardus dagangan ayahku itu; hampir setiap hari pula aku tertawa setelah membaca kekonyolan trio Petruk, Gareng, dan Bagong.

Memang, semua itu bukan milikku. Jika dagangan ayahku laku, mainanku akan berkurang. Sebagai gantinya, lauk makananku akan berganti: dari tempe menjadi oseng jamur campur bakso. Jika laku banyak, saat buka puasa ada tambahan lagi, es buah, meski hanya untukku seorang.

Dan, di antara waktu yang selalu aku tunggu bukan hanya berbuka, tapi juga hari sabtu. Pada hari Sabtulah ayahku berbelanja dagangannya di bilangan Kampung Melayu. Setiap sabtu pula ayahku menjemputku pulang. Selepas berjualan, dengan sepedanya ayahku menungguku di depan sekolah, seperti hari ini. Matahari tengah memamerkan kekuatannya. Awan hitam menjauhi Jakarta. Angin kering berembus. Tapi beliau setia menungguiku.

Mengipasi badannya dengan topinya, ayahku tersenyum ketika melihatku keluar dari pagar sekolah. Beliau jualan mainan di sekolah yang lokasinya agak jauh dari sekolahku. Entah apa alasan beliau tidak mau berjualan di sekolahanku. Aku pernah bertanya soal ini, tapi beliau cuma menjawab dengan senyuman sambil bertanya apakah aku sudah selesai belajar. Obrolan pun beralih ke soal pelajaran sehari-hari dan kisahku di sekolah. Dan, ayahku hanya mendengarkan atau mengomentariku bila aku keliru bersikap, baik terhadap guru maupun teman-temanku.

Setelah menjulurkan tangannya untuk kucium, beliau mengalihkan kardus dagangannya yang berada di boncengan belakang ke bagian tengah sepeda. Sebenarnya, dengan begini beliau agak susah menggenjot; terganjal kardus berisi dagangannya. Tapi, beliau selalu menjawab tidak apa-apa bila aku bertanya, “Tidak apa-apa, Yah?” Setiap menggenjot, dari belakang tampak sekali kalau bahu, leher dan tangannya kaku. Kedua kakinya tidak bisa menggenjot dengan bebas, karena pahanya menahan kardus itu agar tetap berada di tempatnya.

Selesai shalat dhuhur berjamaah, aku dan ayah bersiap menuju terminal Kampung Melayu. Dan, di sana kami menghabiskan waktu hampir setengah hari untuk mengubek-ubek toko mainan yang sedang menjadi tren di antara teman-teman sebayaku. Dalam hal ini, ayahku mengandalkanku. Aku tahu mainan apa yang menjadi dambaan teman-temanku. Seperti saat ini, yang sedang digemari teman-temanku adalah kartun gambar Batman dan Robin, Baja Hitam, dan, tentu saja, robot Baja Hitam. Maklum, aku dan teman-teman selalu menunggu pemutaran film Kotaro Minami[i].

Saat itu, Sabtu minggu pertama bulan puasa. Dagangan ayahku hampir habis. Dengan modal seadanya, beliau berusaha mencari uang agar kami bisa berlebaran di kampung. Karena modal seadanya itu pula ayahku hanya bisa membeli satu robot Baja Hitam.

“Tak apa,” kata Ayah. “Bila ini laku, minggu depan mungkin bisa beli dua. Lumayan.”

Sesampai di rumah, ibuku telah menyiapkan makanan berbuka seperti biasa, teh manis dan nasi bertabur tempe goreng. Karena lelah dan lapar kami langsung menyantap makanan yang tersedia. Selepas tarawih, aku terus saja menatap robot itu. Membayangkan, betapa kerennya bila aku membawa robot itu ke sekolah. Memamerkannya. Jika aku membawanya, tentu akulah yang pertama kali yang bisa memilikinya. Toh, teman-temanku, termasuk aku, selama ini memang mendambakan robot ini. Tapi, sejauh ini memang hanya berada dalam angan-angan. Di antara kami, mungkin hanya Rendi yang mungkin memilikinya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan; sementara orang tua kami rata-rata pedagang di sekolah atau di pasar, seperti ayahku.

Ketika hendak tidur, aku memainkan robot Baja Hitam itu. Namun, aku mesti berhati-hati. Jangan sampai merusak plastik dan kemasannya. Jika rusak, tentu tidak akan laku. Ketika sedang asyik memainkan, ayahku masuk rumah dan melihatku tengah memegangnya. Entah apa yang ada dalam benakku, tapi aku langsung beringsut lantas memasukkannya kembali ke dalam kardus. Tanpa sadar, wajahku lesu. Tak bergairah. Aku belum puas memainkannya. Mungkin saja robot itu laku besok. Jadi, tak ada jaminan aku bisa memainkannya.

Saat itu, entah mengapa oseng jamur campur bakso atau es buah tak menarik bagiku ketimbang memainkan robot Baja Hitam itu. Tampaknya, ayah melihat raut wajahku. Beliau agak enggan mematikan lampu. Tapi, sambil menghela napas ayah memberitahuku bahwa sudah saatnya aku tidur. Beliau pun mematikan lampu dan menyelimutiku dengan sarung. Dan mencium keningku.

***

Pada Senin pagi, setelah sahur aku mengelurkan kembali robot Baja Hitam itu dari kardus. Memainkannya. Sebenarnya, bukan memainkannya, tapi mengkhayal memainkannya. Karena robot itu cuma satu, tak mungkin aku memainkannya dengan robot lainnya. Dan, hanya robot itu yang ada di rumahku. Aku pun memainkannya dengan bambu kecil, seakan itu adalah monster atau ia adalah Gorgom[ii] yang menyamar menjadi bambu untuk mengelabui si Baja Hitam. Jagoanku.

Jika biasanya aku mengenakan seragam pada pukul enam, pada pagi itu aku sudah berseragam sekolah setelah shalat subuh. Saat ayah menyiapkan dagangannya, ia kembali melirik ke arahku, aku yang sedang memegang robot Baja Hitam.

“Nanti kalau sudah masukkan kembali ya, Nak” kata ayahku. Sambil bersiap mandi, beliau melempar senyum ke arahku.

Aku mengangguk.

Entah mengapa, ingin rasanya aku memasukkan robot itu ke dalam tasku, bukan ke dalam kardus. Dan, memang itu yang selanjutnya aku lakukan.

Di sekolah aku memamerkannya ke teman-teman. Bahkan, ketika itu Rendi belum punya. Teman-temanku kagum. Ya, untuk sementara aku di atas angin. Mereka mengagumiku, karena aku memiliki robot yang menjadi idaman teman-teman.

Aku pulang agak telat hari itu. Sampai di rumah, aku melihat sepeda ayah telah terparkir di depan rumah kami; rumah kontrakan kami, tepatnya.

Begitu melepas sepatu di depan pintu yang tertutup, aku mendengar percakapan ayah dan ibuku.

“Tahun ini kita mudik gak, ya, Bu?” Itu suara ayahku.

Bukannya menjawab, ibu malah mengatakan, “Sudah dua tahun kita tidak mudik.”

Ayah menghela napas.

“Semoga saja bisa, Bu. Biar Umar ketemu kakek-neneknya.

“Kalau robot Baja Hitam itu laku minimal empat, untuk ongkos kita bertiga sepertinya cukup. Tadi saja ada yang berani bayar 25 ribu, padahal modalnya 15 ribu. Sayang, robotnya ketinggalan.”

“Alhamdulillah banget. Iya lah ada yang berani. Wong itu sekolahnya anak-anak elite. Semoga kita bisa mudik tahun ini, ya, Yah. Sudah dua tahun juga kita gak ziarah ke makam … orang tuaku.”

Hening.

“Ya sudah, tolong air minum dong, Bu. Haus sekali.” Ayah berusaha memecah keheningan.

“Ngawur, puasa, puasa!”

“Oh, ya.” Berdua mereka tergelak.

“Ibu mau masak buat buka puasa nanti. Ayah istirahat saja. Umar mungkin main ke temannya.”

Ibu tak tahu aku berada di depan pintu. Aku, yang berada di depan pintu, tak berani masuk. Di dalam tasku, robot Baja Hitam itu sudah tak lagi berplastik dan tak lagi dalam kemasannya.

_____________________________________________________________

[i] Film serial “Kamen Rider Black” yang dibintangi Tetsuo Kurata. Film yang lebih tenar dengan sebutan Kesatria Baja Hitam itu merupakan tontonan favorit anak-anak pada 1990-an.

[ii] Musuh bebuyutan Kamen Rider

Gambar diambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s