Pelayan Rakyat

Featured image

Bagaimana Jokowi mencintai rakyat dan rakyat mencintai Jokowi. 

Mendorong mobilnya yang terjebak di tanah gembur, ia mengabaikan lumpur yang terciprat ke wajah dan pakaiannya. Tak meminta bantuan dari warga sekitar, ia terus berusaha mengeluarkan mobilnya yang terjebak. Terus begitu, sampai kemudian Wito Mulyono, 61 tahun, keluar dari rumahnya.

Hari masih pagi dan saat itu ia belum melihat warga lain yang keluar. Saat melihat seseorang sedang berjuang mengeluarkan mobil dari lumpur, ia mendekat. Dan kaget.

“Eh, ada Pak Jokowi!” serunya.

Mulyono mengetuk rumah tetangganya yang terdekat. “Woi, warga, bangun-bangun! Bantu Pak Jokowi!” kata Mulyono. Mulyono pengurus kampung itu. Kabar Jokowi terjebak lumpur segera meruak. Warga pun berbondong-bondong mendorong mobil Jokowi. Setelah berhasil mengeluarkan mobil Jokowi dari lumpur mereka kembali ke rumah masing-masing, seakan tak terjadi apa pun. Tak ada keriuhan macam-macam. Mereka memang sudah terbiasa bertemu atau bahkan ngobrol dengannya. Jokowi pun sudah terlalu sering datang untuk menyerap pendapat warga. Keberadaannya sudah dianggap biasa, apalagi di kampung itu.

***

Nama asli kampung itu Kragilan, tapi dikenal dengan Kampung Gedek. Masuk kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, ia terletak di daerah landai, di ujung utara Surakarta. Di bibir kampung ada dua warung makan yang saling berhadap-hadapan. Keduanya bangunan beton, tampak mencolok dibanding rumah-rumah lainnya yang sebagiannya menggunakan gedek; anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu.

Ada dua gang untuk menelusuri kampung itu. Keduanya menggunakan paving blok. Di kiri-kanan jalan sepanjang gang itu terdapat cor-coran semen. Ini membuat pejalan kaki dan pengendara motor tak perlu lagi khawatir terpeleset, apalagi pada musim penghujan. Tanah sekira 3500 m2 itu gembur karena memang bekas persawahan. “Kalau becek, bisa-bisa kaki melesap ke tanah sampai lutut,” kata Ngatiyem, 41 tahun, salah seorang penghuni kampung.

Dan, pagi itu mobil Jokowi terjebak lumpur di sana, tanpa keinginan dibantu, di kampung yang ia bangun.

***

Ia datang ke sana dua hari setelah sah menjadi walikota Surakarta periode 2005-2010. Saat itu Kampung Gedek masih pantas disebut demikian. Semua rumah di sana terbuat dari gedek. Beberapa rumah hampir rubuh, malah. Tak ada bangunan beton. Lantainya tanah. Rata-rata profesi penghuni kampung itu adalah buruh, kuli, pemulung, tukang becak, pedagang di pasar, atau tukang parkir. Sebelum 2007, hampir semua penduduknya menempati tanah bukan milik mereka. Kampung itu termasuk sengketa agraria, antara 16 pemilik tanah dan penghuni kampung. Ada 54 kepala keluarga yang menempatinya. Sejak 1997-2005 konflik kerap terjadi antara pemilik tanah dan penghuni kampung.

Bahkan, para pemilik tanah pernah mengerahkan polisi untuk memaksa warga memilih: membayar atau angkat kaki? Untuk membayar, warga kesulitan. Untuk keseharian saja mereka kelimpungan, apalagi kalau harus membayar tanah seharga Rp 2,5 juta per kapling. Mereka juga enggan pindah; mau ke mana, selain hidup gelandangan? Mereka tetap tinggal di tempat itu, meski tak mampu membayar tanah. Hampir tak ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini. Masing-masing mengotot dengan pendirian mereka. Walau tak pernah terjadi bentrok fisik sekali pun, beberapa kali terjadi cek-cok antara polisi dan warga. Sejumlah warga was-was.

“Jangan-jangan kalah, terus disuruh pindah,” kenang Suparmi, 50 tahun, salah seorang warga.

“Ya, khawatir juga kalau ternyata harus pindah,” tambah Ngatiyem.

Menjelang pemilihan kepala daerah 2005-2010 warga melihat celah untuk menyelesaikan masalah mereka: mendatangi salah satu calon walikota. Beberapa orang yang dipimpin Mulyono mendatangi Jokowi dan FX Rudi. Selain daerah itu basis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai pendukung utama pasangan Jokowi-FX Rudi, mereka hanya tahu rumah Jokowi. Begitu bertemu, mereka bertanya kepada Jokowi, “Apa yang akan Anda lakukan bila kami memilih Anda?”

Menurut Mulyono, dalam pertemuan itu Jokowi menjanjikan menyelesaikan sengketa tanah dan mengusahakan kepemilikan tanah bagi warga, lengkap dengan sertifikatnya. Ketika akhirnya terpilih, ia langsung mewujudkan janjinya. Dan, di kampung inilah Jokowi menanamkan tonggak kepemimpinannya.

Mulyono ingat betul, ketika pertema kali datang Jokowi membawa staf-stafnya berjalan menelusuri jalanan becek menuju kampung itu. Jokowi tak peduli dengan pantalon dan sepatunya yang terkena lumpur. Sesampai di sana, warga keluar dari rumah masing-masing dan mengadukan masalah mereka kepadanya. Ia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Ia dengarkan permintaan warga satu per satu. Lalu, ia memerintahkan para stafnya untuk memetakan masalah mereka.

Dari pemetaan masalah, Jokowi tahu bahwa akar utamanya adalah 16 pemilik tanah. Meski Walikota, ia tak menggunakan kekuasaannya untuk menekan agar para pemilik tanah menyerahkan tanah mereka. Ia melakukan pendekatan persuasif. Bila dilihat dari sisi efektifitas, cara ini mungkin tak efektif. Untuk menuntaskan masalah jumlah ganti rugi saja Jokowi mengadakan sampai 9 kali pertemuan. Semuanya difasilitasi Pemda dan Jokowi pribadi. Jokowi menyebut strategi ini dengan “nguwongke uwong” atau memanusiakan manusia.

Setelah mencapai kesepakatan harga, masalah belum selesai. Para penghuni itu tak memiliki uang. Jokowi pun mengusahakan agar bank pasar bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan pinjaman sangat lunak kepada para penghuni untuk membayar harga sesuai dengan kesepakatan. Selanjutnya, mereka membayar ke bank pasar per bulan sekitar Rp. 140.000-150.000, tergantung luas tanah yang mereka tempati. Uang itu diangsur selama 2 tahun, dan semua tanah di situ sudah dimiliki para penghuni. Masing-masing memiliki sertifikat. Kecuali satu orang, yaitu keluarga Ngatiyem. “Kalau bukan karena Pak Joko, mungkin rumah itu sudah disita bank pasar. Sudah melebihi batas,” kata Mulyono. Mestinya lunas pada 2009.

“Ya, bagaimana lagi,” kata Pak Gondrong, suami Ngatiyem. Ia belum bisa menebus sertifikat tanah yang ada di bank pasar. Utangnya Rp600 ribu. Ia tak bisa menebusnya karena pendapatannya sehari-hari yang pas-pasan. Ia bekerja sebagai pemulung dan tukang becak.

Tak hanya membebaskan tanah, Jokowi memberikan rumah layak huni kepada warganya. Ia memerintahkan para stafnya untuk membangun toilet per rumah, dan mengalirkan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke kampung itu. Bila semula mereka membuang “hajat” di mana saja—yang penting sepi, tak terlihat orang, dan bisa ditimbun tanah atau lumpur—sekarang setiap rumah memiliki toilet dan penampungan air bersih.

Selain itu, Jokowi mengusahakan setiap rumah mendapatkan bantuan Rp 2 juta. Tapi bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan pasir, batu-bata, semen, dan material lainnya. “Kalau uang, belum tentu jadi bangunan,” kata Mulyono. Jokowi menyerahkan semua pengelolaan perumahan ini kepada para penghuni. Mereka bahu-membahu membangun rumah. Setelah selesai membangun satu rumah, mereka beralih membangun rumah lainnya. Begitu seterusnya sampai 56 rumah di sana menggunakan setengah beton, berlantai semen, memiliki toilet, dan penampungan air bersih.

Ketika pembangunan kampung itu masih berjalan, suatu hari Jokowi melihat jalanan masih tanah dan rentan becek. Jokowi memberitahu Mulyono untuk membangun gang dan jalan di sana dengan paving blok.“Itu ada paving blok bekas yang tak terpakai di jalan Slamet Riyadi, karena mau ada pembangunan di sana. Silakan ambil dan pakai buat jalan di sini,” cerita Mulyono, menirukan pernyataan Jokowi.

Berbekal pernyataan Jokowi, warga berbondong-bondong mengambil paving blok yang ada di jalan protokol Surakarta itu pada malam hari, setelah mereka selesai bekerja. Beberapa kali Mulyono melihat Jokowi memerhatikan ia dan warga Kampung Gedek yang mengangkuti paving blok ke atas mobil bak terbuka.

Setelah pembangunan rumah selesai, jalan rampung, Jokowi melihat warga tak memiliki ruang pertemuan dan mushala. Ia meminta Bank Indonesia membangun fasilitas ruang pertemuan di kampung sekaligus mushala. Akhirnya, masyarakat kini memiliki ruang pertemuan. Berdiri mentereng, gagah, dengan lantai keramik dan bangunan beton, ruangan itu berada di tengah-tengah perkampungan. Bangunan itu kini menjadi ruangan serba guna: mulai dari mengaji, mushala, sampai tempat pelatihan menjahit bagi para ibu rumah tangga.

Jokowi mendorong ibu-ibu rumah tangga yang tak memiliki pekerjaan untuk meningkatkan keterampilan mereka dengan mengikutkan mereka ke pelatihan membuat kue atau menjahit. Ia pun mendorong lembaga-lembaga tertentu, seperti koperasi maupun dinas tenaga kerja, untuk menyalurkan bantuan kepada warga. Bila warga membutuhkan modal usaha, bank pasar atau Bank Rakyat Indonesia (BRI) siap membantu.

Namun sayang, beberapa peralatan menjahit itu kini menganggur. Hanya menempati pojokan ruang pertemuan itu. Berdebu.

“Ya, begitu, pada gak mau mengembangkan,” kata Mulyono.

Mengubah sarana fisik memang mudah. Tapi lain halnya dengan mengubah kebiasaan. Tak hanya di kampung Kragilan ini, bahkan di pasar-pasar tradisional yang sudah ia ubah menjadi modern pun masih susah mengubah kebiasaan. Ia misalnya, memberikan celemek kepada para pedagang agar tampak bersih. Namun, mereka enggan menggunakannya. Sekalinya dipakai, jarang dicuci.

Tapi toh Jokowi tak lantas putus asa. Ia melakukan berbagai usaha untuk mengubah kebiasaan ini. Salah satu usahanya yang berhasil bisa dilihat di Pasar Klithikan.

***

Takrif: Ini hasil reportase saya pada November 2012. Didanai Enervolution, sebuah pengembang aplikasi untuk pengguna Apple, dan GudangBuku, sebuah penerbit buku (alm.).

Jamban
Jika sebelumnya buang hajat di tempat terbuka, kini setiap rumah memiliki jamban.
PDAM
Air bersih mengalir ke setiap rumah. Berkat PDAM, warga Kampung Gedek tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.
Serba guna
Bangunan serba guna: pertemuan, mushala, pengajian, dan tempat kursus.
Bocah
Anak-anak kini belajar dengan tenang dan gembira karena rumah mereka lebih layak tinggal ketimbang beberapa tahun sebelumnya.
Rumah pakai beton dan jalan gang yang menggunakan paving blok.
Ngatiyem, salah seorang warga Kampung Gedek.
Plang penanda keberhasilan Reforma Agraria. Tak seperti daerah lain yang memakan korban dan mengucurkan darah, reforma agraria di daerah ini berjalan mulus.
Foto rumah gedek, sebelum dibangun.
Wito Mulyono menunjukkan foto rumah gedek sebelum dibangun Jokowi
Ruangan dalam bangunan serba guna: untuk mushala, sekolah taman pendidikan Al-Quran, pertemuan, tempat kursus, dan lainnya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s