Botol Ketemu Tutup

-ini catatan di balik penulisan buku biografi Anies Baswedan-

“Saya takkan mengubah pendapat Anda tentang saya, tapi saya akan memberikan cerita atau menunjukkan orang yang bisa bercerita tentang saya,” kata Anies. Di meja makan kami membahas perincian rancangan buku ini. Fery Farhati duduk di sampingnya, memperhatikan Anies bicara sambil sesekali melihat anak-anaknya yang bermain. Mikail, Kaisar, dan Ismail berlarian mengelilingi ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Televisi mati. Sekali-dua Anies atau Fery memperingatkan mereka untuk berhati-hati.

Mestinya malam ini Anies menghadiri undangan jamuan makan malam dari seorang duta besar. Ia terpaksa membatalkan acara itu karena kelelahan. Beberapa hari ini jadwalnya memang sangat “brutal”. Dari pagi sampai malam tak putus-putusnya ia bertemu banyak orang dan berpindah-pindah tempat. Sesorean tadi ia mengenakan jaket, dan sepulang dari bicara di satu lembaga penelitian ia menguap beberapa kali dan mengucek matanya. Di tengah jalan ia minta Tomi, pengemudinya, memutar haluan untuk mampir ke pijat refleksi langganannya di bilangan Fatmawati.

Malam ini sambil menyesap secangkir teh hangat dan membaca rancangan buku ini semangatnya kembali.

Selesai membaca semua rancangan buku, ia tak mengarahkan mana saja yang boleh saya tulis dan mana yang tidak. Ia membuktikan ucapannya. Ia justru menambah informasi-informasi penting yang saya belum tahu. Ia lalu memberi beberapa nama, lengkap dengan nomornya, yang bisa saya wawancara. Nama-nama ini menambah daftar narasumber yang sudah saya dapatkan dari Hikmat Hardono, teman Anies sejak kuliah dan kini memimpin GIM.

Mata Anies berbinar ketika membaca judul buku ini: Melunasi Janji Kemerdekaan. Semula ada 4 empat judul alternatif. Setelah mengikuti kegiatan Anies selama tiga bulan lebih, keempat judul itu tak mampu menggambarkan sosok Anies. Tak bunyi. Judul ini sangat khas Anies. Ada dua alasan kenapa saya memilihnya. Pertama, Anies menggunakan judul ini untuk ceramahnya saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia di Universitas Paramadina pada 15 Agustus 2011.

“Kemerdekaan bukan saja ikhtiar untuk menggulung kolonialisme, tapi sebenarnya yang paling utama kemerdekaan adalah menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Anies mengawali ceramahnya.

Membicarakan keadilan itu indah di telinga namun sulit melihat kenyataannya di dunia nyata. Tapi Anies memberikan jalan menuju keadilan itu, berupa perhatian terhadap dunia pendidikan. Inilah alasan kedua. “Mengubah manusia Indonesia itu sesungguhnya mengubah Indonesia,” katanya. Mengubah manusia Indonesia paling konkret adalah melalui dunia pendidikan. Maka Anies berupaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia melalui pemberian beasiswa penuh untuk 25% mahasiswa UPM dan GIM. Tentu saja, ini usaha yang sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk dan luas negeri ini.

Tapi, sebagaimana selalu ia utarakan, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Dan, ia menerjemahkan upayanya ini sebagai usaha untuk melunasi janji kemerdekaan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan anak bangsa. “Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan janji kemerdekaan kita,” katanya.

***

SUATU HARI, seseorang bertanya kepada saya, bagaimana rasanya bisa menulis Anies Baswedan? Jawabannya, campur aduk. Antara kaget, senang, bahagia, terharu, dan juga dongkol setengah mati. Soal bahagia, senang, terharu, dan sederet sinonimnya tak perlu lagi saya utarakan alasannya. Yang membuat saya kaget, dalam proses wawancara dan pencarian data saya baru tahu bahwa sudah ada beberapa penulis yang mau menuliskan biografinya, tapi Anies tak kunjung mengiakan. Ia kurang sreg dengan pilihan tema dan sudut pandang mereka. Sedangkan kepada saya, ia memberikan akses. Saya lalu tanya alasannya. “Karena temanya pendidikan,” katanya. Sesederhana itu.

Harus saya akui, saya kagum terhadap Anies. Kekaguman saya terhadapnya bermula dari desas-desus: Anies menjadi rektor Paramadina karena merebut hak seseorang. Saat itu saya masih menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah. Hubungan Paramadina dan kampus saya di Ciputat sangat erat karena Nurcholish Madjid, atau Cak Nur. Terlepas dari berbagi kontroversi, Cak Nur adalah alumnus UIN yang menjadi salah satu raksasa intelektual di Indonesia dan pendiri Paramadina.

Isu konflik soal rektor di Universitas Paramadina setelah Cak Nur menjadi santapan empuk sebagian aktivis mahasiswa di Ciputat. Perbincangan, dan bahkan gosip, menjadi tak terkontrol. Rata-rata menyebutkan Anies sebagai pihak yang buruk. Sampai-sampai tercetus pernyataan, sebenarnya Anies tak layak menjadi rektor karena bukan siapa-siapa. Saya menjadi pendengar pasif atas kabar-kabar yang beredar. Saya memaklumi kondisi ini. Saat itu namanya tak pernah terdengar dalam radar dunia aktvivtisme dan intelektual Indonesia. Ia seperti orang baru yang tiba-tiba jadi pucuk pimpinan lembaga yang didirikan salah seorang raksasa intelektual Indonesia itu. Memang siapa dia? Tapi saya tak mencari informasi lebih jauh siapa Anies. Yang saya sesalkan, mengapa harus ada konflik. Sebatas itu.

Pertemuan pertama saya dengan Anies terjadi pada Jumat, 12 September 2008. Itu dalam acara Santri Canggih yang dihelat Yayasan Paramadina. Ia menjadi pembicara. Dengan kemampuan analisis dan membandingkan sejumlah data, serta kecakapan retorikanya, ia membuat peserta diam, khusyuk mendengarkan isi pembicaraannya. Ia tak menulis makalah seperti pembicara lainnya. Ia tampil polos, tak membawa catatan. Tapi, ia berbicara secara runtut mengenai berbagai masalah yang ada di Indonesia dan bagaimana menyelesaikannya. Satu per satu ia bedah. Saya masih ingat ucapannya saat itu, “Para pendiri republik ini memiliki segudang alasan untuk pesimis, tapi mereka tetap optimis; kita memiliki banyak alasan untuk optimis malah pesimis.” Ia lalu mengkritik stasiun televisi yang turut menyebarkan teror, intimidasi, dan pesimisme terhadap masyarakat. Sebenarnya kita punya pilihan, tapi “kita tak sadar, tombol merah di dalam remote itu juga pilihan.”

Sejak itu saya meragukan isu yang pernah saya dengar bahwa ia tak layak menjadi rektor Paramadina. Saya mulai mencari keterangan tentang dirinya. Saya kecele. Ternyata, ia bukan orang baru dalam dunia aktivisme. Ia menjadi salah satu nama yang diperhitungkan pada era 90-an, terutama untuk Yogyakarta. Dan, fakta ini membuat saya tampal konyol sekali: pada Mei 2008 majalah Foreign Policy mengganjar Anies sebagai satu dari 100 intelektual publik dunia. Juni 2008 Madina memasukkan Anies sebagai satu dari 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Ketika mencari data tentangnya, pernah terbesit keinginan untuk menulis tentang Anies, setidaknya feature pendek. Namun, keinginan saya tak kesampaian. Hingga akhirnya bergabung dengan Zaman pada 2010.

Di Zaman saya sering mengobrol ringan dengan Qamaruddin SF. Dari obrolan itu ia mengutarakan bahwa sebenarnya Zaman pernah berniat ingin menulis tentang Anies. Keinginan itu bermula dari undangan diskusi terbatas redaksi dengan Anies. Melihat gaya bicara dan cetusan-cetusan idenya, awak redaksi melihat Anies sebagai seseorang yang harus mereka tulis. Semangat dan ide-idenya pantas disebarkan ke khalayak. Anies pun tahu ihwal ini. Seiring waktu, gagasan ini akhirnya terbenam kesibukan masing-masing. Sampai kemudian muncul lomba penulisan buku pengayaan sebuah lembaga di bawah satu kementerian pada 2012.  Ada satu kategori yang sesuai, yaitu biografi tokoh yang memiliki peran dalam bidang pendidikan.

Pada saat yang sama, saya mendapat tugas penulisan akhir dari Kursus Menulis Narasi Pantau 2012. Setelah diskusi sana sini, akhirnya saya memutuskan untuk menulis profil Anies.

Kami lalu duduk bareng untuk menyeriusi proses penulisan ini.

Kalau ini lomba kenapa harus memakai Zaman? Bila naskah ini kelak menang, Zaman siap mencetak dan mengedarkannya. Sesederhana itu. Di atas itu semua, bagi saya ini seperti botol ketemu tutup. Klop. Saya ingin menulis tentang Anies, Anies bersedia, dan Zaman siap menerbitkan.

Saya menyusun jadwal wawancara dan menghubungi sejumlah narasumber. Juga mengumpulkan data. Karena Anies sibuk saya mewawancarainya di mobil dan ikut ke sejumlah kegiatannya. Saya ke Yogyakarta, Solo, dan Bogor. Setelah proses penulisan dan seminggu menjelang penyerahan naskah, saya menelepon panitia. Mungkin bisa minta waktu barang satu hari dan saya sendiri yang akan menyerahkan naskah tersebut ke kantor panitia. Saya membutuhkan waktu tambahan, belum membahas tuntas tulisan-tulisan Anies di jurnal internasional. Telepon diangkat setelah empat kali saya hubungi.

Dan, inilah yang membuat saya dongkol setengah mati. Bukan jawaban tidak. Kalau itu sudah saya duga, dan saya harus siap merelakan karya yang saya sendiri belum puas. Bukan jawaban tidak, sekali lagi, melainkan fakta bahwa panitia memajukan lomba tersebut—baru kali ini saya tahu ada perlombaan dimajukan. Dari yang semula tenggatnya 3 September menjadi 3 Agustus.

Kalau saya tahu bahwa panitia memajukan lomba ini, saya tak perlu buru-buru pergi dari Yogyakarta. Saat itu saya memutuskan pulang karena waktu yang saya miliki tinggal sedikit.

Karena terburu-buru, satu tas berisi data jatuh di tengah jalan. Saya baru sadar tas itu jatuh setelah membeli oleh-oleh untuk keluarga dan hendak pamit ke keluarga Anies. Dengan panik, sepanjang jalan saya menjalankan motor sambil lirik kiri-kanan. Konsentrasi pecah. Jangan-jangan usaha saya selama di Yogya hilang begitu saja. Sia-sia.

Saking paniknya, tanpa saya sadari di depan saya sebuah sedan sedang parkir. Saya tak mungkin menghindar, dan akhirnya tabrakan itu terjadi. Bagian belakang sedan itu penyok, dan lampu sen motor saya patah. Tapi, si pemilik mobil berbaik hati memberikan kesempatan kepada saya untuk mencari data terlebih dahulu, setelah itu baru mengurus soal bagian mobilnya yang penyok.

Setelah mengitari jalan antara Fakultas Teknik dan rumah Rumah sakit Sakit Sardjito, akhirnya saya menemukan tas berisi data itu. Saya berterima kasih kepada siapa pun yang memindahkan tas itu dari tengah jalan dan menyimpannya ke trotoar. Beruntung pula saya segera menemukannya. Jika telat, entah siapa yang akan mengambilnya. Yang pasti, bila dikilo, tas itu sekira 4 kilogram. Lumayan, dapat untuk membeli camilan berbuka puasa bila dijual ke tukang loak.

Saya lalu menawarkan jalan tengah: buku ini terbit tanpa harus mengikuti lomba. Saya juga perlu menulis naskah ini dengan rada tenang. Saya punya waktu lebih untuk mengumpulkan berbagai data penting yang tak sempat saya singgung di naskah sebelumnya. Saya mulai mengumpulkan bahan lagi, sembari bekerja agar dapur tetap mengebul.

Dan akhirnya, inilah dia.

Tentu saja buku ini tak mungkin memotret wajah Anies secara utuh. Ini hanya bingkai. Betapapun, pemahahaman kita terhadap seseorang hanya tafsir. Tak ada orang yang mampu mengenali orang lain secara persis. Akan selalu ada sisi yang tak pernah terungkap. Selalu menjadi misteri. Adalah hak setiap orang untuk memiliki sikap demikian. Manusiawi.  Setidaknya, saya menulis buku ini melalui prosedur penulisan yang baku, konfirmasi dan verifikasi. Dan, saya bisa menulis bingkai Anies ini karena ia memberikan keleluasaan kepada saya untuk menafsirkan jalan hidupnya.

Bagi penulis, sungguh, ini penghargaan tak ternilai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s