Kado Ulang Tahun Istri

Sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit karena tumpukan lemak, ia melirik saya. Lirikannya tajam, seperti pertanyaan menuntut jawaban.

“Tak apa, Sayang. Ayah tetap sayang Bunda. Toh, bukan perut membuncitmu yang bikin ayah cinta, tapi perhatian dan kasih sayangmu. Juga, ya sikapmu yang kadang nyebelin, sih,” kata saya.

Ia langsung melemparkan pandangan dan memonyongkan bibir. “Huh! Gak laku,” katanya. Kami lalu tertawa.

Ya, istri saya kini berusia 30 tahun. Ia memasuki kepala tiga. Beranak satu, berat badannya naik terus. Tapi, kecintaan dan kasih sayangnya kepada kami, saya dan anak saya, begitu murni, tanpa lemak seinci pun.

Setiap anak kami sakit, ia selalu cerewet. “Kenapa ini, kenapa ini,” katanya. Khawatir hampir setiap saat. Panik. Berbagai cara ia tempuh untuk mengurangi rasa sakit anak kami. Bahkan, ia rela mengurangi porsi tidur malam dan siangnya, demi agar sakit Aya, anak kami, berkurang dan akhirnya hilang.

Begitu saya terserang sakit sedikit, ia langsung membuat jamu andalannya: jahe campur kencur. Ia segera menyuguhkannya kepada saya hangat-hangat. Ia akan menunggu dan ngomel terus bila saya tak segera meminumnya. Ia akan segera bertanya kepada kakaknya yang seorang perawat tentang obat apa yang cocok dengan penyakit yang saya derita. Kepada kakaknya, ia akan cerita secara detail penyakit yang saya derita.

Dan, ia akan membiarkan saya aman tidur setelah bergadang semalam suntuk dengan mengungsikan Aya main di luar kamar.

Tak hanya itu, ia tetap memasak untuk kami meski sedang sakit berat. Dengan koyo yang menempel di kening dan pinggiran dahinya, ia berusaha agar kami bisa tetap makan. Walau badan menguarkan aroma balsam, ia tetap menggerus cabai untuk membuat sambal. Meskipun saya melarang dan menawarkan untuk membeli makanan di luar, ia kerap menjawab, “Bunda tak apa-apa. Yang penting ayah sama Aya makan.”

Saya menyadari sepenuh hati, saya belum bisa memberikan yang terbaik kepadanya. Padahal, dengan sepenuh hati, ia telah berusaha memberikan yang terbaik kepada kami. Ia tumpuan kami.

Ia mendukung segala keputusan saya. Termasuk ketika awal-awal menulis naskah ini. Itu terjadi sekitar dua tahun lalu, awal 2012.

Saat itu, kami memutuskan agar saya bekerja di rumah. Kondisi keuangan kami morat-marit. Ketika saya mengutarakan saya mendapatkan tawaran untuk menulis biografi Mas Anies, ia bilang, “Bismillah saja.” Soal gagasan dan awal mula penulisan biografi ini saya akan tulis sendiri di bagian lain.

Tanpa dinyana, rencana yang di awal hanya sekitar enam bulan berlanjut menjadi bertahun dan akhirnya baru kelar tahun ini, dua tahun kemudian. Dengan kecerdasannya sebagai seorang ibu, ia berhasil membawa keluarga kecil kami selamat dalam dua tahun terakhir ini. Ia pintar mengatur bagaimana agar dapur tetap mengebul, padahal api dan asap belum tentu ada setiap bulan. Selama dua tahun ini, ia pontang-panting berusaha agar saya tak mundur dari apa yang telah saya mulai.

Alhamdulillah, buku ini naik cetak dalam minggu ini dan hadir sekitar dua minggu lagi.

Tanpa kesengajaan, buku ini selesai ketika ia berulang tahun. Sebenarnya, saya merancang buku ini sebagai kado ulang tahun Aya. Tapi, buku ini menjadi istimewa karena selesai pas ulang tahun istri saya. Dalam pernikahan kami, ini adalah buku kedua yang mengikat keluarga kecil kami.

Ketika menikah, saya memberikan mahar berupa kumpulan tulisan saya yang tersebar di banyak media dan saya beri judul, Karyaku, Maharku. Saya terinspirasi Mohammad Hatta yang memberi mahar buku Alam Pikiran Yunani saat menikahi Rachmi Rahim. Tentu saja, kumpulan tulisan saya tidak akan ada apa-apanya dibanding buku Hatta. Tapi yang paling utama adalah inspirasi untuk memberikan hadiah kepada orang tercinta berupa buku. Buku adalah gudang ilmu. Dan, dengan begitu, itu juga menjadi simbol tentang bahwa selama hidup ini kami harus terus-menerus belajar. Kata Mas Anies, “Syukuri perkembangan, perbaiki kekurangan.”

Semoga ke depan, akan banyak buku yang terus mengelilingi kehidupan kami. Dengan begitu, kami akan terus belajar, termasuk terus belajar saling mencintai.

Bunda, selamat ulang tahun. Ini hadiah segala lelah dan jerih payahmu selama ini.

Saya juga berterima kasih kepada Mas Anies yang mengizinkan saya untuk menerbitkan catatan yang disertai sampul buku ini. Sedianya, buku ini akan diumumkan sekitar minggu depan. Tapi, karena bertalian dengan ulang tahun istri saya, ia mengizinkan untuk saya umumkan saat ini.

Matur suwun atas semua bantuan Mas Anies. Semoga Allah membalas semua kebaikan dan upaya sampean.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s