Sandyakala Andalusia


Image

Di Kordoba, 1198, Ibnu Rusyd, ulama-cum-dokter yang di Barat dikenal sebagai Averous dan dianggap tokoh filsuf Rasionalisme, mengembuskan nafas penghabisan dalam kondisi mengenaskan. Jabatannya sebagai hakim negara dicopot. Banyak karyanya dibakar. Ajaran filsafatnya menjadi barang haram. Ramalannya mulai menuju kebenaran bahwa masa depan negaranya takkan ramah untuk orang-orang yang tercerahkan seperti dirinya.

Di tempat yang sama dan waktu hampir bersamaan, dokter, juru tulis, dan filsuf Yahudi Musa Ibn Maymun atau Maimonides harus angkat kaki dari kampung halamannya. Ia yang semula dimuliakan menjadi orang terbuang. Kordoba, yang dikuasai kerajaan-kerajaan Islam kecil dan saling berperang, mulai menutup pintu bagi kaum Yahudi. Bahkan ketika berkuasa, kalangan Muwahidun membantai ribuan orang Yahudi. Maimonides dan keluarganya pindah ke Mesir. Di sana ia mendapatkan tempat terhormat dengan menjadi dokter sekaligus penasihat pribadi Salahuddin al-Ayubi, kelak dikenal sebagai penakluk Yerusalem, hingga meninggal dunia pada 1204.  Baca lebih lanjut

Berbisnis ala Bajak Laut

Nama Steve Jobs seperti menjadi jaminan atas produk-produknya. Berkualitas. Memuaskan. Pantas saja jika di setiap peluncuran produknya ia mampu memukau banyak orang.

BEBERAPA media besar seperti Time mengulas hampir semua peluncuran produknya. Meski mangkat 5 Oktober 2011 lalu, sampai kini dan seterusnya ia akan tetap dikenang sebagai sosok yang lumayan komplet: penemu, perancang, pemantik revolusi komunikasi, juga pengusaha sukses. Tak keliru bila kita bertanya: apa rahasia Steve Jobs sehingga bisa seperti itu?

Steve Jobs tidak memiliki bola kristal yang membuatnya dapat membuat produk-produk yang luar biasa dan selalu mengagumkan. Ia manusia, dan karena itu bisa ditiru siapa pun. Bahkan mungkin kelak ada yang melampauinya. Beruntunglah kita karena Jay Eliot menulis The Steve Jobs Way ini. Namun, alih-alih diterjemahkan atau menggunakan judul aslinya, buku ini menggunakan kata-kata Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford pada 2005 yang mengagumkan itu: Stay Hungry, Stay Foolish. Baca lebih lanjut

Hanya Menegaskan, Belum Membarui

Buku ini, sekali lagi, mengukuhkan betapa visioner Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid, ketika menulis makalah berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.” Makalah yang disampaikan untuk pertemuan aktivis Islam pada 1970 itu tetap relevan hingga kini. Jika Ihsan Ali-Fauzi menyebut makalah tersebut sebagai teks paling otentik Cak Nur dan teks-teks lainnya sebagai catatan kaki, eksplorasi lebih jauh, atau kamuflase penting untuk dakwah, maka buku ini bisa dimasukkan ke dalam kategori catatan kaki.

Buku hasil workshop bertema “Menata Kembali Visi Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia” beberapa waktu lalu ini merupakan kumpulan percik kegelisahan para intelektual muslim Indonesia kontemporer. Mereka gelisah melihat keberislaman Indonesia belakangan ini: konservatisme yang semakin mengental dan kejumudan pemikiran Islam mutakhir. Mereka pun mencoba memperbarui kembali pemikiran Islam. Namun, membaca seluruh tulisan di dalam buku itu tampaknya pembaruan baru terlaksana pada tahap wacana, belum sampai pada tahap produksi pemikiran. Baca lebih lanjut

Kisah Duka Janda Belia

Yang memprihatinkan, ibu mertua dan saudara iparnya mengucapkan selamat (mabruk) kepada suami Nujood ketika mereka mendapati Nujood terlelap tak mengenakan sehelai benang pun setelah malam pertamanya.

Jika saja peristiwa Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah dipahami dengan benar, mungkin tak bakal ada kasus Nujood Ali dan pernikahan perempuan di usia belia lainnya. Bahwa Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah ketika ia belum dewasa (akil baligh), itu memang betul. Namun, bahwa mereka berhubungan laiknya suami-istri setelah Aisyah mendapatkan siklus menstruasi pertama tak begitu dihiraukan banyak orang, termasuk oleh Faez Ali Thamer, suami Nujood Ali.

Nujood Ali merupakan seorang bocah perempuan berasal dari desa Khardji, sebuah desa terpencil di Yaman. Namun, keluarganya terpaksa pindah ke kota Sanaa’ karena ada sebuah insiden memalukan yang membuat kehormatan keluarganya tercemar. Karena kepindahan itulah nasib keluarganya kian terpuruk dalam kemiskinan. Bahkan, beberapa anggota keluarganya mesti mengemis di jalan-jalan untuk bisa menyambung hidup. Baca lebih lanjut

Tiga Perempuan Korban Perasaan

Bagi siapa yang mau mengetahui bagaimana perihnya hati seorang perempuan yang terluka akibat menjadi orang yang kedua, novel ini patut untuk dijadikan pegangan. 

Setelah The Holy Women menggaet Golden Jubilee Award pada 2002, Qaisra kembali menunjukkan kepiawaiannya memadu cerita dengan menerbitkan Typhoon yang kemudian diterjemahkan sebagai Perempuan Terluka. Sebenarnya, novel ini merupakan proyek dari trilogi yang direncakan oleh penulis perempuan keturunan Pakistan itu.

Tidak berbeda dengan Perempuan Suci, dalam sekuelnya ini Qaisra tetap mengusung feminisme. Kali ini fokus penceritaannya bukan Zarri Bano, melainkan tiga perempuan yang terluka hatinya. Mereka adalah korban; dua orang terluka akibat keputusan yang tidak adil, sedangkan satunya lagi karena peristiwa “laknat” yang terjadi di masa gadisnya. Baca lebih lanjut

Revolusi Mesir di Kafe Karnak

Pelbagai carut-marut keadaan Mesir kala itu diceritakan kembali dengan apik oleh Najib Mahfudz dalam al-Karnak. Nama Najib Mahfudz merupakan jaminan dalam sastra Arab kontemporer: hingga kini belum lagi ada sastrawan dari negara Arab yang meraih nobel sastra.

Era awal 70-an merupakan salah satu masa terburuk dalam sejarah bangsa Mesir. Sudah jatuh tertimpa tangga, demikian pepatah yang tepat untuk menggambarkan masyarakat Mesir kala itu.

Mesir seolah-olah jatuh setelah lepas dari revolusi 1952, ketika Gamal Abd Nasser dan Anwar Sadat  memimpin Mesir secara otoriter dan despotik. Tak begitu lama usia revolusi, Mesir tertimpa tangga setelah kalah perang dengan Israel pada Juni 1967.

Kedua peristiwa tersebut mengakibatkan luka dalam benak penduduk. Namun, yang paling menyakitkan adalah kekalahan Mesir oleh Israel. Kekalahan tersebut memaksa masyarakat untuk menengok sejarah mereka jauh ke belakang. Bahkan mereka selalu dibayang-bayangi kebesaran masa lalu, yakni masa Khalifah Umar bin Khattab atau Rasul. Kekalahan Mesir dianggap sebagai kekalahan bangsa Arab secara umum. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “al-naksa” (kemunduran). Baca lebih lanjut

Melawan dengan Tubuh Menawan

 Perlawanan memang kadang tak butuh jawaban, yang terutama adalah mengeluarkan perlawanan itu. Jika jawaban itu tidak datang pada saat perlawanan dilancarkan, niscaya ia datang kepada generasi mendatang. 

”Jika tubuh tak lagi berkorelasi dengan pikiran, apa bedanya manusia dengan anjing sirkus; berlagak dan pamer, lalu rubuh?” gugat David Herbert Lawrence atau karib dengan nama DH Lawrence. Ia menulis gugatannya di pengantar novel paling masyhurnya ini, Lady Chatterley’s Lover

Ketika terbit kali pertama, novel ini mendapat banyak sorotan media. ”Monster dan menyeramkan,” tulis salah sebuah media Inggris atas terbitnya novel ini. Hal itu disebabkan penuturan seks dalam novel ini.

Tapi, usaha yang dilakukan penulis patut diacungi jempol. Dengan mengerahkan keterampilannya berbahasa, ia mampu mengatasi keterbatasan bahasa. Diksi yang ia gunakan dalam novel ini saat melukiskan persenggamaan tak akan menjatuhkan imaji kelas ”picisan”, tapi justru menjadi indah lembut. Indah. “Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah…” Baca lebih lanjut