Sajak Kembara dan Pergulatan Identitas

Dalam mencari identitas, diharapkan untuk tidak segera puas dengan hasil yang ada. Ia mesti terus menerus melakukan pencarian. 

Konon, hasrat utama modernisme adalah merengkuh subyek (Sang Aku) ke dalam pemahaman utuh mengenali dirinya. Dari situ, peralihan kajian dari perihal ketuhanan (teosentrisme) ke kemanusiaan (antroposentrisme) terjadi. Manusia berusaha menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Manusia menekuni dirinya dengan terus mencari jati diri. Bagaimana bisa memahami obyek di luar dirinya bila diri masih belum dikenali. Sejak itu, manusia mengembara dalam dunia dengan pertanyaan yang senantiasa menghinggapinya, siapakah aku?

Dalam tautan semangat itu pula sajak-sajak Zaim berbunyi nyaring. Ia seperti emoh menanggapi godaan posmodernisme. Baginya, modernisme lebih mempesona. Karena memang, ia belum selesai dengan dirinya. Sebenarnya, pergulatan mencari identitas ini sudah ada dalam sastra Indonesia sejak Salah Asuhan (1928) karya Abdul Moeis.

Tapi, pertanyaan mengenai identitas menjadi ramai kembali dibicarakan dalam sastra dunia saat ini. Banyak sastrawan kelas internasional seperti Orhan Pamuk, pemenang nobel sastra 2006, juga menggeluti tema pencarian identitas, antara Timur dan Barat seperti dalam tertera dalam My Name is Red dan Snow. Hal ini didorong kondisi global saat ini yang sarat dengan pengaburan identitas. Oleh karena itu, semangat mencari jati diri menjadi penting. Agar kita tak tampak seperti singa yang ternyata kambing sebagaimana dengan kocak sekaligus ironis tergambar dalam sajak “Singa”(hal. 89). Baca lebih lanjut

Iklan

Korupsi Tak Mati-Mati

Selama birokrasi masih bobrok, bukan tidak mungkin akan selalu lahir beribu-ribu “Murad” yang tunduk pada setan yang sama: korupsi.

SELESAI membaca novel ini saya mengajukan tebak-tebakan kepada seorang teman. Sebutkan satu kata dalam bahasa Arab untuk kalimat tanya berikut: Bisakah kita menghapus korupsi tanpa memulainya dari birokrasi? Tanpa saya duga, ia menjawab dengan cepat: mustahil (mustahil).

Memang mustahil. Bukankah sosiolog sekelas Max Weber (1864-1920) pernah menyimpulkan bahwa salah satu fondasi keberhasilan modernisasi Jerman adalah birokrasi yang disiplin. Weber mencirikan birokrasi yang disiplin di antaranya adalah kekuatan bukan terletak di tangan pejabat (officeholder) melainkan di institusi; kekuasaan hanya boleh ditetapkan oleh peraturan. Selain merusak sistem, birokrasi yang buruk juga akan menggerus kemanusiaan.

Baca lebih lanjut