Pelayan Rakyat

Featured image

Bagaimana Jokowi mencintai rakyat dan rakyat mencintai Jokowi. 

Mendorong mobilnya yang terjebak di tanah gembur, ia mengabaikan lumpur yang terciprat ke wajah dan pakaiannya. Tak meminta bantuan dari warga sekitar, ia terus berusaha mengeluarkan mobilnya yang terjebak. Terus begitu, sampai kemudian Wito Mulyono, 61 tahun, keluar dari rumahnya.

Hari masih pagi dan saat itu ia belum melihat warga lain yang keluar. Saat melihat seseorang sedang berjuang mengeluarkan mobil dari lumpur, ia mendekat. Dan kaget. Baca lebih lanjut

Ulang Tahun dan Melunasi Janji Kemerdekaan

Melunasi Janji Kemerdekaan

Sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit karena tumpukan lemak, ia melirik saya. Lirikannya tajam, seperti pertanyaan menuntut jawaban.  

“Tak apa, Sayang. Ayah tetap sayang Bunda. Toh, bukan perut membuncitmu yang bikin ayah cinta, tapi perhatian dan kasih sayangmu. Juga, ya sikapmu yang kadang nyebelin, sih,” kata saya.

Ia langsung melemparkan pandangan dan memonyongkan bibir. “Huh! Gak laku,” katanya. Kami lalu tertawa.

Ya, istri saya kini berusia 30 tahun. Ia memasuki kepala tiga. Beranak satu, berat badannya naik terus. Tapi, kecintaan dan kasih sayangnya kepada kami, saya dan anak saya, begitu murni, tanpa lemak seinci pun. Baca lebih lanjut

Ketika Abah Kyai Menawarkan Kehormatan

Yazid al-ilmu bi al-infak; Yanqushu al-ilmu bi al-imsak

Bertambahnya ilmu karena menyebarkannya; berkurangnya ilmu karena menyembunyikannya

(Almaghfurlah K.H. Mochamad Masruri Abdul Mughni)

 

Tak terasa, setahun sudah Abah Kyai Mochammad Masruri Abdul Mughni meninggalkan santri dan jamaahnya. Pada Kamis, 15 November 2012 ini Pondok Pesantren Al-Hikmah mengadakan haul pertamanya. Siapa pun yang mengenalnya tentu sulit menghilangkan bayangan senyum dan tutur katanya yang lembut namun sarat pengetahuan itu. Begitu banyak ajaran dan sikapnya yang menjadi inspirasi para santri atau siapa pun yang mengenalnya. Namun, warisan yang paling menonjol adalah dorongannya kepada para santrinya untuk mengajar.  Baca lebih lanjut

Awad Rasyid Baswedan: Kisah Ayah, Anak, dan Ihwal Pendidikan

Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan

1937, Semarang.

Sore itu, Rasyid kecil berada di ruang tamu. Ibunya, Syekhun, kedatangan tamu seorang teman yang membawa anak yang berusia sedikit tua dari Rasyid. Dalam perbincangan, sang tamu menceritakan bahwa anaknya sudah masuk Voorbels. Rasyid hanya menyimak, tak mengerti apa itu Voorbels. “Saat itu, saya pikir Voorbels itu pasar atau rumah makan,” kata Rasyid.

Voorbels adalah jenjang pertama pendidikan yang diselenggarakan pemerintahan Hindia Belanda. Ia setingkat taman kanak-kanak. Siswa bisa diperkenankan masuk Voorbels bila telah memasuki usia empat tahun. Ketika tahu, Rasyid minta kepada ayahnya untuk didaftarkan ke Voorbels. AR, ayahnya, cuma bilang: “Kamu belum cukup umur.” Baca lebih lanjut

Pasar Klithikan Notoharjo, Satu Minggu Pagi

klithikan 5

“Waduh, hape hilang satu,” kata Sugino, 35 tahun. Hape itu barang dagangannya. Seperti tak percaya dengan kesimpulannya sendiri, Sugino mengobrak-abrik kardus-kardus wadah hapenya. Tapi nihil.

“Mungkin tadi pas ada serombongan orang lihat-lihat,” kata Slamet, 20 tahun, temannya.

“Kayaknya sih, iya. Ya wislah. Risiko,” kata Sugino. Ia menarik nafas panjang. Matanya lalu menerobos lalu lalang manusia di sekitarnya.

Melihat kerumunan orang pada Minggu pagi di Pasar Kltihikan Notoharjo, Solo itu wajar bila kehilangan sesuatu jika tak dijaga dengan baik. Bukan satu atau puluhan orang, melainkan ribuan orang memadati pasar itu sejak pukul 05:00. Bahkan, untuk sekadar lewat saja kadang susah. Tentu saja, yang datang ke sana bukan hanya yang ingin membeli barang, ada juga yang sekadar lihat-lihat atau jalan-jalan pagi; satu-dua berniat jahil dengan mencuri. Meski menyadari kehilangan barang dagangan sebagai risiko, toh ia tampak menyesal juga. Dengan agak terpaksa ia menarik bibirnya untuk tersenyum, alisnya seperti hendak bertemu; senyum itu kecut. Baca lebih lanjut

Sikap Sentimental Seorang Ayah?

Entah karena saya seorang ayah baru atau bagaimana, setiap melihat bayi saya selalu sentimental. Saya selalu terenyuh melihat bayi yang disia-siakan orangtuanya, baik itu dengan menjadi alat untuk meraup rupiah dengan membawanya ketika mengamen di tengah jalan ataupun ketika ia mendapat perlakuan kasar dari orang dewasa. Saya selalu ingin memeluk dan melindunginya, seakan ia anak saya, putri saya tercinta. Baca lebih lanjut

Ihwal Tambal Ban dan Bagaimana Mengantisipasinya

20120319-pentil-ban-dalam-1

Bila diibaratkan, mencari penambal ban yang jujur itu seperti memancing ikan di kolam yang baru saja ditaburi pelet sekian karung. Selama mengendarai motor, saya jarang sekali menemukan penambal ban yang hanya menambal. Dia akan mencungkil ban, mengotak-atik pentil ban sehingga rusak, atau merobek ban dalam. Dari mana saya tahu? Mudah saja. Baca lebih lanjut