Robot Baja Hitam

baja hitam

Jakarta, 1993

Memasuki bulan puasa, ayahku tidak menjual makanan; beliau menjajakan mainan, seperti kartu gambar, lilin-lilinan, ular tangga, bola bekel, dan komik Petruk karya Tatang S. Betapa senang aku melihat semua itu ada di dalam rumahku. Bagiku, ini keistimewaan. Hampir setiap hari aku bisa memainkan apa pun yang ada di dalam kardus dagangan ayahku itu; hampir setiap hari pula aku tertawa setelah membaca kekonyolan trio Petruk, Gareng, dan Bagong.

Memang, semua itu bukan milikku. Jika dagangan ayahku laku, mainanku akan berkurang. Sebagai gantinya, lauk makananku akan berganti: dari tempe menjadi oseng jamur campur bakso. Jika laku banyak, saat buka puasa ada tambahan lagi, es buah, meski hanya untukku seorang. Baca lebih lanjut

Surat Bersampul Merah Muda

love letter1

Bel istirahat itu mengakhiri penderitaanku. Hatiku serupa Merapi siap meletus; Tembok Besar Cina menjulang gagah di depan otakku. Akibatnya: aku tak bisa menangkap materi yang sedari pagi diterangkan Pak Guru.

”Ini pasti bertalian dengan surat bersampul merah muda yang kini kugenggam,” pikirku. Ah! Bagaimanapun, bisul itu mesti pecah hari ini juga. Kuedarkan pandanganku. Hanya tiga orang dalam kelas. Salah satunya, orang yang kumaksud. Sadar bahwa kelas aman, kupejamkan mataku sembari mengumpulkan nyaliku. Agar aman, kuselipkan surat bersampul merah muda itu ke dalam buku PPKN. Belum lagi sempurna aku berdiri, sebuah suara memanggilku:

“Hen, mana kamus yang kamu janjikan?”

Itu suaranya. Ia tersenyum. Suara dan senyumnya meruntuhkan bangunan nyaliku yang memang rapuh. “Oh, ya, ya. Sa… saya bawa. Saya bawa. Hampir lupa. Mau sekarang?”

“Oh nggak. Tahun depan,” ia merajuk.

“Ya sudah, berarti tahun depan. Padahal saya sudah bawa,” entah bodoh atau gugup aku mengiyakan saja jawabannya yang sebenarnya hanya bercanda.

“Hendi, temanku yang baik. Aku butuhnya SEKARANG!” Wajahnya menggemaskan kala itu. Baca lebih lanjut

Bendera Setengah Tiang

Kain dua warna itu lusuh. Warna merah di bagian atasnya luntur tak keruan. Di bagian bawah warnanya hampir mendekati abu-abu, mestinya ia berwarna putih. Jika sepoi angin menyapanya, ia enggan memperlihatkan seluruh tubuhnya. Namun, saat angin besar melabraknya barulah tubuhnya tegap dengan penuh-seluruh.

Diikat di sebatang bambu kering yang ditanam di depan rumah, ia tak kalah gagah dengan kawan lainnya yang terbuat dari kain baru dan diikat di sebilah besi. Kain dua warna itu memang sepuh, tapi ia bangga telah menemani pemiliknya selama ini. Di tahun 40-an ia setia menemani pemiliknya ke mana pun. Pemiliknya selalu mengibarkan kain dua warna itu dalam segala kondisi, entah itu menang maupun kalah dalam pertempuran. Sekarang, ia dipasang setengah tiang. Ia dipasang setengah tiang untuk memperingati sang pemilik yang semalam menjadi mendiang.

Dan, ya, selama berhari-hari kemudian angin selalu besar.

PS: Gambar diambil dari sini.

Di Bawah Geliat Matahari

Ketika aku kecil, ayahku kerap mengunjungi Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk membeli berbagai kebutuhan. Jika tak ada kegiatan, aku pun turut beliau. Tak hanya penjual baju atau celana yang ada di sana, pedagang barang bekas atau loak pun berjejeran di pinggir jalan. Aku selalu menikmati ritual menyusuri pedagang kaki lima di sana. Sepulang dari Tanah Abang, jumlah mainan atau komik Pertuk-ku selalu bertambah; baju dan celanaku pun bertambah, tapi itu setahun sekali.

Ke tukang loak itulah kami menuju. Di sana kami bisa membeli barang bagus dengan harga “miring”. Tentu saja, barang bekas! Kami bisa membeli suku cadang untuk pompa air, misalnya. Di antara berbagai merk yang ada, “Dragon” merupakan suku cadang pompa yang terkenal kuat. Dan memang, dalam dua tahun kami hanya satu kali ganti. Satu kali ganti dalam dua tahun adalah ukuran kekuatan suku cadang itu. Kalau ada yang lebih dari dua tahun, tanpa debat kusir kami pasti akan membelinya. Tapi harus miring harganya. Baca lebih lanjut