Ulang Tahun dan Melunasi Janji Kemerdekaan

Melunasi Janji Kemerdekaan

Sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit karena tumpukan lemak, ia melirik saya. Lirikannya tajam, seperti pertanyaan menuntut jawaban.  

“Tak apa, Sayang. Ayah tetap sayang Bunda. Toh, bukan perut membuncitmu yang bikin ayah cinta, tapi perhatian dan kasih sayangmu. Juga, ya sikapmu yang kadang nyebelin, sih,” kata saya.

Ia langsung melemparkan pandangan dan memonyongkan bibir. “Huh! Gak laku,” katanya. Kami lalu tertawa.

Ya, istri saya kini berusia 30 tahun. Ia memasuki kepala tiga. Beranak satu, berat badannya naik terus. Tapi, kecintaan dan kasih sayangnya kepada kami, saya dan anak saya, begitu murni, tanpa lemak seinci pun. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika Abah Kyai Menawarkan Kehormatan

Yazid al-ilmu bi al-infak; Yanqushu al-ilmu bi al-imsak

Bertambahnya ilmu karena menyebarkannya; berkurangnya ilmu karena menyembunyikannya

(Almaghfurlah K.H. Mochamad Masruri Abdul Mughni)

 

Tak terasa, setahun sudah Abah Kyai Mochammad Masruri Abdul Mughni meninggalkan santri dan jamaahnya. Pada Kamis, 15 November 2012 ini Pondok Pesantren Al-Hikmah mengadakan haul pertamanya. Siapa pun yang mengenalnya tentu sulit menghilangkan bayangan senyum dan tutur katanya yang lembut namun sarat pengetahuan itu. Begitu banyak ajaran dan sikapnya yang menjadi inspirasi para santri atau siapa pun yang mengenalnya. Namun, warisan yang paling menonjol adalah dorongannya kepada para santrinya untuk mengajar.  Baca lebih lanjut

Awad Rasyid Baswedan: Kisah Ayah, Anak, dan Ihwal Pendidikan

Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan

1937, Semarang.

Sore itu, Rasyid kecil berada di ruang tamu. Ibunya, Syekhun, kedatangan tamu seorang teman yang membawa anak yang berusia sedikit tua dari Rasyid. Dalam perbincangan, sang tamu menceritakan bahwa anaknya sudah masuk Voorbels. Rasyid hanya menyimak, tak mengerti apa itu Voorbels. “Saat itu, saya pikir Voorbels itu pasar atau rumah makan,” kata Rasyid.

Voorbels adalah jenjang pertama pendidikan yang diselenggarakan pemerintahan Hindia Belanda. Ia setingkat taman kanak-kanak. Siswa bisa diperkenankan masuk Voorbels bila telah memasuki usia empat tahun. Ketika tahu, Rasyid minta kepada ayahnya untuk didaftarkan ke Voorbels. AR, ayahnya, cuma bilang: “Kamu belum cukup umur.” Baca lebih lanjut