Ulang Tahun dan Melunasi Janji Kemerdekaan

Melunasi Janji Kemerdekaan

Sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit karena tumpukan lemak, ia melirik saya. Lirikannya tajam, seperti pertanyaan menuntut jawaban.  

“Tak apa, Sayang. Ayah tetap sayang Bunda. Toh, bukan perut membuncitmu yang bikin ayah cinta, tapi perhatian dan kasih sayangmu. Juga, ya sikapmu yang kadang nyebelin, sih,” kata saya.

Ia langsung melemparkan pandangan dan memonyongkan bibir. “Huh! Gak laku,” katanya. Kami lalu tertawa.

Ya, istri saya kini berusia 30 tahun. Ia memasuki kepala tiga. Beranak satu, berat badannya naik terus. Tapi, kecintaan dan kasih sayangnya kepada kami, saya dan anak saya, begitu murni, tanpa lemak seinci pun. Baca lebih lanjut

Iklan

Cahaya

Hidungnya masih saja mengeluarkan ingus, dan suara batuk masih keluar dari mulut mungilnya. Bundanya tak jauh berbeda, malah lebih parah. Selain pilek dan batuk, badannya panas. Terkadang Bunda bocah itu menggigil.

“Gejala tipus,” kata kakaknya yang seorang perawat di puskesmas kecamatan.

Maka, Bundanya harus banyak istirahat. Sebenarnya, bocah itu pun harus banyak istirahat. Tapi memang dasar bocah, ia masih saja bolak-balik mendorong kursi dan memainkan segala yang ada di tangannya. Di usianya satu tahun tiga minggu ini, ia sedang belajar berdiri dan berjalan. Juga mengucap satu-dua patah kata.

Ia senang betul bila Mbahnya bertepuk tangan sambil bilang, “Deg deg pinter ngadeg!” Maka, dengan berpegangan kepada apa pun yang ada di sekitarnya yang bisa ia jadikan penopang, ia berdiri. Lalu bertepuk tangan. Tapi, yang paling ia gandrungi itu mendorong kursi plastik ke seantero rumah. Berkali-kali. Bahkan, hingga butiran keringat berleleran dari kepala dan lehernya. Sambil mendorong kursi, tawanya tak pernah luntur dari mulutnya.

Tapi, ia masih belum mampu berdiri sendiri. Baca lebih lanjut

Sekali Lagi, Tentang Waktu

Betul, memang. Usia tak bisa kita kira. Tak bisa kita raba. Tak bisa kita nyana. Benda yang hilang, masih mungkin untuk kita dapatkan gantinya. Uang yang raib, sangat mungkin kita cari gantinya. Usia yang hilang, siapa yang mampu mengembalikannya? Takkan mungkin kita dapatkan kembali, bahkan sedetik yang baru saja lewat.

Saya memang sudah menyadari hal ini sejak lama. Namun, saya sering mengabaikannya. Kadang, saya menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang sama sekali jauh dari bermanfaat. Tidur berlebihan. Menjelajah dunia maya tanpa tujuan. Seiring bertambahnya usia, kian terasa dampaknya. Apalagi dengan keberadaan Aya dan bundanya. Juga dengan status saya sebagai pekerja lepas. Sudah hampir tiga bulan saya memutuskan untuk menjadi pekerja lepas. Waktu menjadi sangat berharga. Dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, kemungkinan besar saya mendapatkan biaya hidup sehari-hari dan masa depan pun lebih besar. Baca lebih lanjut

Tengkurap

Pada Minggu, 16 Oktober 2011 keluarga kecil kami mendapat kejutan: Aya belajar tengkurap.

Ini benar-benar kejutan. Semula kami sempat khawatir melihat perkembangan tubuhnya. Berat badannya 8,7 kg saat Aya berusia hampir empat bulan. Seorang teman memperingatkan, berat badan Aya sudah dalam batas ambang hati-hati sekali. Istilahnya, di atas area kuning. Mendekati kegemukan, obesitas. Mendengar keterangan itu, kian bertumpuklah kecemasan kami. Beruntung kami mendapat informasi lain. Baca lebih lanjut